|
Judul: Bukan hanya karena kerinduan
Pangeran Zinzendorf suatu waktu berdiri di depan lukisan terkenal,
yang berjudul "The Crucifixion" (penyaliban), di kota Stenburg,
Jerman. Di bawah lukisan itu ada tulisan, "Inilah yang Kulakukan
untukmu, apa yang kau lakukan untuk-Ku?" Lukisan dan tulisan itu
menyentuh hatinya. Sejak saat itu, ia menyerahkan semua
kekayaannya, bahkan dirinya sendiri kepada Tuhan. Ia menjadi
pelayan Tuhan.
Daud juga telah merasakan kebaikan Tuhan. Dari gembala domba menjadi
Raja Israel. Keturunannya pun akan diberkati (ayat 7-11). Tak
heran ia merasa terganggu saat menyaksikan suatu hal yang
mencolok: ia tinggal di istana megah, sedangkan Tabut Perjanjian,
yang merupakan simbol kehadiran Tuhan, diletakkan di dalam kemah
(ayat 1). Maka muncullah kerinduan untuk membangun rumah bagi
Tuhan. Namun Tuhan ternyata tak mengizinkan Daud mewujudkan
kerinduannya (ayat 3-4). Mengapa? Salahkah Daud? Kerinduan Daud
tak salah, tetapi ada hal yang harus dipahami oleh Daud. Tuhan
tak pernah meminta Daud untuk membangun sebuah rumah, sebagai
tempat untuk meletakkan Tabut Perjanjian (ayat 4-6). Tuhan juga
tidak pernah meminta Daud membalas segala sesuatu yang telah Dia
lakukan bagi Daud (ayat 7-10). Daud pun harus menyadari bahwa
pembangunan rumah bagi Allah seharusnya bukan membangkitkan
kemuliaan bagi Daud, melainkan bagi Tuhan. Lagi pula tangan Daud
telah pernah berlumuran darah karena keterlibatannya di medan
perang (1Taw. 22:8; 28:3). Sebab itu, Tuhan menyerahkan tugas
pembangunan Bait-Nya kepada Salomo, anak Daud sendiri.
Bukan hanya Daud, kita pun terkadang ingin melakukan sesuatu bagi
Tuhan. Namun kita telah belajar bahwa apa yang ingin kita lakukan
belum tentu sesuai dengan hati Tuhan. Bukan selalu karena Tuhan
tidak berkenan, melainkan karena memang Tuhan tidak menghendaki
demikian, atau bisa juga karena belum waktunya menurut Tuhan.
Maka carilah kehendak Tuhan saat akan melakukan apa pun bagi Dia.
Sebab semuanya harus diarahkan bagi kemuliaan-Nya.
|