|
Judul: Bukan pemain tunggal!
Selain membutuhkan dukungan, kerjasama, dan komitmen kesetiaan dari
banyak pihak, seorang pemimpin juga membutuhkan penasihat yang
berhikmat. Penasihat-penasihat itu dibutuhkan karena
sehebat-hebatnya seorang pemimpin, tetap ada hal-hal yang tidak
atau kurang ia kuasai.
Daud sebenarnya pemimpin yang bijaksana seperti itu. Ia segera sadar
bahwa untuk mengelola bangsanya diperlukan kerjasama dan masukan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu ia mengajak para pemimpin di
bawahnya untuk berunding sebelum mengambil sebuah keputusan
penting, yaitu memindahkan Tabut Perjanjian Allah yang sudah lama
terabaikan sejak zaman Saul ke pusat pemerintahan Daud.
Rencana Daud didukung penuh. Pemindahan Tabut Allah pun dilakukan.
Namun, bukan berkat yang didapat, melainkan pukulan Allah yang
dahsyat menimpa rencana tersebut. Uza menjadi salah satu
korbannya. Apa yang salah dari rencana tersebut? Bukankah Tuhan
sudah diikutsertakan dalam perencanaan itu (ayat 2)?
Kesalahan Daud fatal. Ia memang seolah meminta perkenan Tuhan atas
rencananya, tetapi sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh
memperhatikan kehendak Tuhan. Tak ada petunjuk di teks ini yang
memperlihatkan bahwa Daud mencari pimpinan Tuhan, seperti yang
ditunjukkannya ketika ia belum menjadi raja (lih. 1 Sam. 23:2-3,
4, 9-12; 30:7-8). Lagi pula hal memindahkan Tabut Allah
seharusnya dilakukan oleh para imam, sebagaimana diatur dalam
Hukum Taurat.
Bukan tidak mungkin bila kita pun seperti Daud, seolah melibatkan
Tuhan dalam perkara hidup kita. Berdoa, tetapi bukan mencari
kehendak Tuhan, melainkan hanya memberitahukan apa yang kita
inginkan. Ibarat Tuhan hanya diminta untuk menandatangani lembar
program yang sudah kita buat, bahkan mungkin dengan berkonsultasi
pada ahlinya. Ingatlah bahwa Tuhan adalah Pemilik hidup,
pelayanan, dan pekerjaan kita. Dia adalah penasihat terbaik untuk
rencana hidup kita. Kita bukan pemain tunggal dalam kehidupan
ini.
|