|
Judul: Pasti Tuhan menolong
Dari mana ucapan syukur mengalir? Tentu dari hati yang telah
merasakan pertolongan Tuhan. Bagaimana mengungkapkan rasa syukur
yang benar? Kita belajar dari pemazmur, yaitu dengan tidak
sekadar menaikkan kata-kata syukur dan pujian, atau dengan
mempersembahkan kurban-kurban bakaran, melainkan dengan
menundukkan diri dalam ketaatan kepada firman (ayat 7-9). Kurban
bakaran tidak berarti apa-apa kalau tidak disertai dengan hati
yang tulus dan taat pada Tuhan. Kurban paling berkenan pada Tuhan
adalah persembahan diri untuk Tuhan pakai sekehendak hati-Nya
(ayat 9, band. Rm. 12:1). Rasa syukur pemazmur juga dinyatakan
kepada Tuhan dengan menyaksikan perbuatan Tuhan kepada umat Tuhan
(ayat 10-11). Tujuannya jelas, agar umat Tuhan dikuatkan dan ikut
mensyukuri kasih setia-Nya. Itulah gambaran dari bagian pertama
mazmur ini (ayat 2-11).
Dari pengalaman pernah ditolong Tuhan, pemazmur beroleh keyakinan
bahwa Tuhan bisa diandalkan. Oleh karena itu, pada bagian kedua
mazmur ini (ayat 12-18), permohonan diungkapkan. Pemazmur sedang
mengalami masalah: para musuhnya menginginkan kematiannya. Mereka
mengepung dan mengeroyok dia (ayat 13). Pemazmur merasa tertekan,
tetapi pada saat yang sama ia percaya bahwa Tuhan peduli. Maka
pemazmur memohon agar Tuhan jangan berlambat, tetapi segera
menolong dirinya (ayat 18). Ia ingin agar para musuh melihat
pertolongan Tuhan atas dirinya, sehingga mereka mundur teratur
(ayat 15-16).
Bagaimana pengalaman Anda ditolong Tuhan pada masa lampau? Sudahkah
Anda mensyukurinya? Masih berpengaruhkah pengalaman itu dalam
situasi yang sedang menekan Anda? Percayalah bahwa sesuai janji
firman-Nya, Tuhan Yesus Kristus tidak pernah berubah, dulu,
sekarang, dan sampai selamanya. Andalkan Dia terus untuk menolong
kita. Naikkan syukur tak henti-hentinya disertai tekad tulus dan
bersungguh-sungguh untuk taat pada firman-Nya dan menyaksikan
segala kebaikan-Nya.
|