|
Judul: Pelayan Tuhan
Ketika masih kecil, saya beberapa kali mendengar komentar orang-orang
tua bahwa menjadi hamba Tuhan bukanlah profesi yang menjanjikan
masa depan yang cerah. Saya rasa orang tua saya pun dulu demikian
berpikirnya. Namun hari ini saya adalah seorang yang melayani
Tuhan secara penuh waktu, dan orang tua saya tidak malu untuk
mengatakan bahwa anaknya adalah seorang hamba Tuhan. Anak-anak
saya pun bangga memiliki ayah seorang yang mengabdikan dirinya
untuk pekerjaan Tuhan. Bahkan, saya bersyukur untuk putri sulung
saya yang sudah mempersembahkan dirinya untuk melayani Tuhan
penuh waktu.
Setelah menyajikan silsilah dari berbagai suku Israel, yang semuanya
tentu menimbulkan kebanggaan bagi masing-masing orang, penulis
Tawarikh sekarang memfokuskan pasal 6 untuk menuturkan silsilah
dari suku Lewi. Tuhan telah memilih suku Lewi secara khusus untuk
melayani Dia di rumah Tuhan. Tiga anak Lewi yang menjadi tiga
keluarga besar, Gerson, Kehat, dan Merari, masing-masing memiliki
tugas di dalam pengelolaan rumah Tuhan (lih. Bil. 3).
Dari keluarga Kehat dipilih secara lebih khusus keluarga Harun untuk
menjabat sebagai imam besar turun temurun. Harun adalah cucu
Kehat dari Amran. Keluarga Harun memiliki posisi sentral dalam
ibadah rumah Tuhan. Oleh karena itu silsilahnya dipaparkan
terlebih dahulu (ayat 4-15). Setelah itu berturut-turut keluarga
Gerson (ayat 20-21), Kehat (ayat 22-28), dan Merari (ayat 29-30).
Kebanggaan karena merupakan keturunan seorang hamba Tuhan atau karena
ada anggota keluarga yang berprofesi hamba Tuhan seharusnya bukan
menimbulkan kesombongan, melainkan dorongan untuk ikut terjun
dalam pelayanan. Menjadi hamba Tuhan adalah panggilan dan pilihan
Tuhan sesuai dengan anugerah-Nya. Bukan jabatan atau status yang
diutamakan, tetapi pekerjaan yang dipercayakan Tuhan, yang harus
disyukuri dan dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab.
|