Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 1Tawarikh 21:1-17
< Agustus
2008
>
M S S R K J S
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu 30 Agustus 2008

Judul: Jangan tidak beriman
Sebelum kapal Titanik berangkat, Nyonya Albert Caldnel seorang penumpang, bercakap-cakap dengan salah seorang awak kapal. Nyonya Caldnel menanyakan, apakah kapal sebesar Titanik dapat tenggelam? Awak kapal menjawab dengan pongah, bahwa Titanik adalah sebuah keberhasilan di bidang perkapalan. Jadi Titanik tidak mungkin tenggelam. Bahkan katanya, Tuhan sendiri tak mungkin menenggelamkan kapal itu. Namun apa yang terjadi? 20 menit sebelum jam 12 malam pada tanggal 14 April 1912, kapal itu tenggelam karena menabrak gunung es. Sungguh ironis!

Serangkaian keberhasilan yang diterima Daud, membuat dia terbujuk oleh Iblis untuk mensensus orang Israel (ayat 1). Apakah mengadakan sensus adalah salah? Menurut pandangan pada masa itu, seseorang hanya berhak menghitung apa yang menjadi miliknya. Israel sama sekali bukan milik Daud, melainkan milik Allah. Jadi sensus hanya terjadi bila diperintahkan oleh Tuhan. Tuhan sendiri telah menetapkan aturan mengenai sensus, yang tidak ditaati oleh Daud pada saat itu (Kel. 30:12). Pelanggaran itu memperlihatkan kesombongan akibat kebanggaan atas keberhasilan yang telah dicapai. Di sisi lain, kurangnya kepercayaan Daud pada Allah untuk menyelamatkan bangsa itu membuat dia mengadakan sensus untuk mengetahui jumlah orang yang bisa dilibatkan dalam peperangan. Padahal keamanan Israel hanya terletak di dalam iman kepada Allah, bukan pada jumlah prajurit. Memang Daud kemudian sadar dan mengakui dosanya, tetapi konsekwensi atas dosa itu tak bisa dihindari.

Disadari atau tidak, keputusan dan tindakan kita pun sering dilandasi keraguan kepada Allah. Meski sudah berdoa, kita masih memikirkan cara untuk "membantu" Dia agar lebih mudah mengabulkan doa kita. Berupaya mengatasi masalah bukan merupakan suatu hal yang salah, tetapi bila itu dilakukan karena kita ragu kepada Allah tentu akan menjadi suatu kesalahan. Periksalah hati dan pikiran kita agar tindakan kita bukan dilandasi oleh ketidakpercayaan.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran