|
Judul: Jangan tidak beriman
Sebelum kapal Titanik berangkat, Nyonya Albert Caldnel seorang
penumpang, bercakap-cakap dengan salah seorang awak kapal. Nyonya
Caldnel menanyakan, apakah kapal sebesar Titanik dapat tenggelam?
Awak kapal menjawab dengan pongah, bahwa Titanik adalah sebuah
keberhasilan di bidang perkapalan. Jadi Titanik tidak mungkin
tenggelam. Bahkan katanya, Tuhan sendiri tak mungkin
menenggelamkan kapal itu. Namun apa yang terjadi? 20 menit
sebelum jam 12 malam pada tanggal 14 April 1912, kapal itu
tenggelam karena menabrak gunung es. Sungguh ironis!
Serangkaian keberhasilan yang diterima Daud, membuat dia terbujuk
oleh Iblis untuk mensensus orang Israel (ayat 1). Apakah
mengadakan sensus adalah salah? Menurut pandangan pada masa itu,
seseorang hanya berhak menghitung apa yang menjadi miliknya.
Israel sama sekali bukan milik Daud, melainkan milik Allah. Jadi
sensus hanya terjadi bila diperintahkan oleh Tuhan. Tuhan sendiri
telah menetapkan aturan mengenai sensus, yang tidak ditaati oleh
Daud pada saat itu (Kel. 30:12). Pelanggaran itu memperlihatkan
kesombongan akibat kebanggaan atas keberhasilan yang telah
dicapai. Di sisi lain, kurangnya kepercayaan Daud pada Allah
untuk menyelamatkan bangsa itu membuat dia mengadakan sensus
untuk mengetahui jumlah orang yang bisa dilibatkan dalam
peperangan. Padahal keamanan Israel hanya terletak di dalam iman
kepada Allah, bukan pada jumlah prajurit. Memang Daud kemudian
sadar dan mengakui dosanya, tetapi konsekwensi atas dosa itu tak
bisa dihindari.
Disadari atau tidak, keputusan dan tindakan kita pun sering dilandasi
keraguan kepada Allah. Meski sudah berdoa, kita masih memikirkan
cara untuk "membantu" Dia agar lebih mudah mengabulkan doa kita.
Berupaya mengatasi masalah bukan merupakan suatu hal yang salah,
tetapi bila itu dilakukan karena kita ragu kepada Allah tentu
akan menjadi suatu kesalahan. Periksalah hati dan pikiran kita
agar tindakan kita bukan dilandasi oleh ketidakpercayaan.
|