Bacaan : Lukas 1:26-38
Hamba adalah seseorang yang menyadarkan dirinya untuk selalu berserah
dan hanya menuruti segala kehendak tuannya. Demikian pula setiap
orang yang mengaku sebagai hamba Allah, seharusnya siap untuk
berkata, "Jadilah kehendak-Mu." Kita mungkin akan segera menjawab
bahwa kita bisa mengatakannya. Namun, ketika sebuah kenyataan berat
menuntut jawaban kita tersebut, sungguhkah kita dapat melakukannya?
Adakah kita sungguh mau menerima kehendak Allah dengan segala
konsekuensinya, atau kita cenderung ingin mengubah kehendak Allah
itu?
Mari belajar dari Maria, ibu Yesus. Ketika malaikat Gabriel membawa
berita bahwa Maria akan mengandung, berbagai ta nya muncul. Bagaimana
hubungan saya dengan Yusuf? Bagaimana masa depan saya? Menjadi ibu
Sang Mesias merupakan kehormatan. Namun, harga yang harus dibayar
terasa begitu berat karena harus dibayar dengan seluruh masa
depannya.
Biasanya orang gagal untuk berkata, "Jadilah kehendak-Mu" karena
tidak bersedia membayar harga. Namun, Maria tidak gagal. Ia menjawab,
"Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu
itu". Dalam jawaban ini kita melihat apa yang dipikirkan Maria, yakni
bahwa ia sangat menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhan. Kebenaran
itulah yang membuatnya tunduk.
Kita pun harus menyadari bahwa kita ini milik Allah, hidup kita untuk
Allah; tidak lagi untuk diri sendiri. Maka, apa pun yang dikehendaki
Tuhan harus kita terima, apa pun keputusan-Nya. Jika kita menganggap
bahwa Tuhan itu Allah, dan bukan "alat", sesungguhnya apa pun yang
Dia putuskan pasti benar, adil, dan terbaik. Allah tidak akan memberi
rancangan jahat bagi kita, umat tebusan-Nya --ENO
HATI YANG BERSERAH AKAN SELALU PENUH DAMAI SEJAHTERA
KETIKA MENAATI KEHENDAK ALLAH
|