Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > HATI SEORANG HAMBA
< Desember
2009
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Minggu, 27 Desember 2009

Bacaan Setahun : Wahyu 7-9
Nats : Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1:38)

HATI SEORANG HAMBA

Bacaan : Lukas 1:26-38

Hamba adalah seseorang yang menyadarkan dirinya untuk selalu berserah dan hanya menuruti segala kehendak tuannya. Demikian pula setiap orang yang mengaku sebagai hamba Allah, seharusnya siap untuk berkata, "Jadilah kehendak-Mu." Kita mungkin akan segera menjawab bahwa kita bisa mengatakannya. Namun, ketika sebuah kenyataan berat menuntut jawaban kita tersebut, sungguhkah kita dapat melakukannya? Adakah kita sungguh mau menerima kehendak Allah dengan segala konsekuensinya, atau kita cenderung ingin mengubah kehendak Allah itu?

Mari belajar dari Maria, ibu Yesus. Ketika malaikat Gabriel membawa berita bahwa Maria akan mengandung, berbagai ta nya muncul. Bagaimana hubungan saya dengan Yusuf? Bagaimana masa depan saya? Menjadi ibu Sang Mesias merupakan kehormatan. Namun, harga yang harus dibayar terasa begitu berat karena harus dibayar dengan seluruh masa depannya.

Biasanya orang gagal untuk berkata, "Jadilah kehendak-Mu" karena tidak bersedia membayar harga. Namun, Maria tidak gagal. Ia menjawab, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu". Dalam jawaban ini kita melihat apa yang dipikirkan Maria, yakni bahwa ia sangat menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhan. Kebenaran itulah yang membuatnya tunduk.

Kita pun harus menyadari bahwa kita ini milik Allah, hidup kita untuk Allah; tidak lagi untuk diri sendiri. Maka, apa pun yang dikehendaki Tuhan harus kita terima, apa pun keputusan-Nya. Jika kita menganggap bahwa Tuhan itu Allah, dan bukan "alat", sesungguhnya apa pun yang Dia putuskan pasti benar, adil, dan terbaik. Allah tidak akan memberi rancangan jahat bagi kita, umat tebusan-Nya --ENO

HATI YANG BERSERAH AKAN SELALU PENUH DAMAI SEJAHTERA

KETIKA MENAATI KEHENDAK ALLAH
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran