Bacaan : Kejadian 50:15-21
Kepada seseorang yang pernah disakiti atau dikecewakan orang lain,
kita kerap memberi nasihat seperti ini, "Sudah, lupakan. Yang lalu
biarlah berlalu. Tidak usah diingat-ingat. Toh diingat pun tidak ada
gunanya." Sebuah nasihat yang baik dan kedengaran bijak, tetapi
sebetulnya tidak tepat. Sebab tidak mungkin kita melupakan kesakitan
dan kepahitan yang pernah kita alami. Betapa yang namanya pengalaman
buruk, atau "kesakitan" yang ditimbulkan orang lain pada masa lalu
tidak bisa kita hapus dari ingatan kita. Itu sudah menjadi sejarah
hidup kita.
Yang bisa kita lakukan bukan melupakannya, melainkan mengingatnya
dengan cara baru. Bukan menghapusnya dari ingatan kita, tapi
memaknainya dari sudut pandang iman. Inilah yang dilakukan oleh
Yusuf. Ia pernah begitu dibenci saudara-saudaranya. Mereka
menganiaya, bahkan menjualnya sebagai budak. Ia kemudian bekerja di
rumah Potifar. Difitnah oleh istri Potifar, lalu dipenjarakan. Sampai
akhirnya ia menjadi orang penting di negeri Mesir.
Namun, Yusuf tidak membenci dan menyimpan dendam pada
saudara-saudaranya. Saat mereka datang dalam posisi sebagai
orang-orang yang meminta pertolongan, Yusuf menerimanya dengan tangan
terbuka. Padahal, sebagai orang yang sangat berkuasa di Mesir, Yusuf
bisa saja membalas perlakuan buruk mereka terhadapnya dulu.
Yusuf tidak melupakan perbuatan buruk saudara-saudaranya di masa
lalu. Ia melihatnya dengan cara baru dari sudut pandang Allah. Ia
bekata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku,
tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan" (ayat 20). Dan,
pengampunan pun terjadi --AYA
PENTING SEKALI MENGINGAT SETIAP KEPAHITAN DARI SUDUT PANDANG ALLAH
SUPAYA KITA TIDAK TERJEBAK DALAM KEMARAHAN YANG TAK BERUJUNG
|