Bacaan : Ulangan 1:34-40
Dua belas orang diutus untuk mengintai Kanaan. Sepuluh orang membawa
kabar buruk yang menciutkan hati bangsa Israel. Dua orang, Yosua dan
Kaleb, bersikap lain. Mereka percaya pada Tuhan yang berjanji akan
menyerahkan tanah itu kepada Israel. Mereka yakin, Tuhan pasti
memampukan bangsa itu menghadapi kesulitan yang menghadang. Namun,
bangsa Israel tetap tidak mau percaya. Tuhan murka, sehingga bangsa
itu harus mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun.
Menariknya, Yosua dan Kaleb juga ikut menanggung konsekuensi
tersebut. Mereka tidak diistimewakan dengan boleh memasuki Kanaan
lebih awal. Mereka harus ikut mengembara bersama bangsa yang tegar
tengkuk itu. Artinya, hari demi hari mereka juga harus mempertahankan
iman di tengah orang-orang sebangsa yang tidak percaya. Selama empat
puluh tahun!
Perjuangan yang berat, tetapi mereka berhasil melewatinya. Mereka
akhirnya memasuki Kanaan bersama angkatan baru bangsa Israel. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka berpegang pada janji Tuhan dengan sepenuh
hati. Pengembaraan itu bukan penghukuman bagi mereka, melainkan masa
pemurnian iman.
Iman kepada Tuhan memang tidak selalu mendatangkan hasil secara
langsung. Yang lebih sering terjadi, iman kita malah akan diuji lebih
jauh melalui keadaan dan lingkungan yang tidak mendukung. Pengalaman
Yosua dan Kaleb menunjukkan bahwa iman justru diperkuat dan
dimurnikan oleh tantangan tersebut. Teladan mereka menggugah kita
untuk tidak menjadi ciut hati dalam menghadapi ujian iman hari demi
hari --ARS
IMAN YANG TIDAK TERUJI BUKANLAH IMAN YANG BERHARGA
|