Bacaan : Yohanes 4:31-38
Setiap tahun baru, banyak orang membicarakan resolusi: tahun baru,
komitmen baru. Namun, apa yang terjadi dengan komitmen kita saat
nanti, bulan demi bulan berlalu? Terkadang gemanya hampir tak
terdengar lagi; bahkan terlupakan atau tak dipedulikan lagi. Ironis,
bukan?
Mari belajar dari Yesus. Meskipun hidup-Nya di dunia diwarnai
penolakan dari para pemimpin agama waktu itu, penyangkalan murid-Nya,
bahkan berujung pada penderitaan di kayu salib, Dia tetap setia.
Komitmen-Nya teguh dalam berbagai keadaan. Bagaimana Dia dapat tetap
setia sampai akhir? Kuncinya terungkap dari ucapan-Nya, "Makanan-Ku
ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan
pekerjaan-Nya" (ayat 34).
Dia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, dan selama itu Dia
tak pernah absen melakukan kehendak Bapa. Dia pernah meminta agar
cawan penderitaan berlalu dari-Nya, tetapi Dia menyerahkan kembali
keputusan akhirnya ke tangan Bapa. Dia tidak pernah hidup di luar
kehendak Bapa, sebab hidup-Nya adalah untuk melakukan kehendak Bapa.
Inilah yang membuat hidup-Nya menjadi teladan komitmen yang sempurna.
Komitmen yang dijaga dengan setia sampai akhir.
Bagaimana dengan kita? Hidup kita perlu diisi tidak hanya dengan
berbagai perbuatan baik menurut ukuran dunia, tetapi juga dengan
melakukan kehendak Bapa setiap saat. Tantangan pasti ada, tetapi mari
kita teladani kesungguhan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa dalam
segala keadaan. Buatlah komitmen untuk setia menjadi saksi-Nya dan
lakukanlah dengan setia hingga akhir. Dengan demikian, hidup kita
memuliakan-Nya --HA
SEBUAH KOMITMEN MENJADI BERARTI
JIKA KITA MAU BERJUANG UNTUK TERUS MELAKUKANNYA
|