Bacaan : Yesaya 38:1-5, 9-20
Sony Snow, seorang jurnalis, berjuang melawan kanker selama tiga
tahun. Sebelum meninggal tahun 2008, ia menulis: "Sebagian penderita
kanker sembuh, sebagian tidak. Menghadapi kefanaan dan keringkihan
tubuh, cara Anda memandang hidup akan makin bijak. Anda bisa
membedakan mana yang benar-benar penting, mana yang tidak. Anda lebih
menghargai hal-hal kecil, menyadari pentingnya iman dan mengalami
betapa besarnya kuasa kasih. Itulah karunia unik yang tidak dimiliki
orang sehat. Itu seninya sakit. Menurutku ada hal yang jauh lebih
parah daripada sakit, yaitu hidup sehat, tetapi hampa."
Raja Hizkia pernah jatuh sakit. Tuhan memberinya vonis mati. Betapa
terpukulnya Hizkia! Ia merasa harus pergi sebelum waktunya. Hatinya
terasa pedih. Namun, pergumulan itu membuahkan hikmat. Ia mulai
menyadari betapa fananya hidup dan betapa ringkih tubuhnya. Sekalipun
ia adalah Raja yang berkuasa, di hadapan Tuhan, ia hanya seperti
"burung layang-layang yang menciap-ciap" (ayat 14). Hizkia lantas
menyadari keberdosaannya (ayat 17). Akhirnya, ia tahu bahwa yang
terpenting dalam hidup adalah bersyukur kepada Tuhan dan
memperkenalkan kebaikan Tuhan kepada anak-anaknya (ayat 19,20). Tidak
seperti Tony Snow, Tuhan memberi Raja Hizkia tambahan umur. Ia
disembuhkan dan pengalaman sakit itu memperkaya hidupnya.
Ada berkat khusus yang Tuhan berikan waktu kita sakit. Sungguh! Sakit
itu ada seninya. Melaluinya kita bisa belajar banyak tentang hidup.
Jika Anda sakit, jangan terlalu banyak mengeluh. Pakai kesempatan itu
untuk berbenah diri --JTI
DI DALAM KESAKITAN
KITA MENEMUKAN SIAPA DIRI KITA DI HADAPAN TUHAN
|