Bacaan : Matius 11:20-24
Seorang guru memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menyebutkan
tujuh keajaiban dunia. Sebagian besar murid segera menuliskan
jawabannya di kertas mereka. Namun, Ririn hanya termangu-mangu di
bangkunya. Dan ketika jam pelajaran hampir selesai, kertasnya masih
kosong. Gurunya heran karena Ririn tergolong anak cerdas.
"Masakan kau tidak tahu satu pun keajaiban dunia, Rin?" tanya
gurunya. "Sebenarnya banyak, Bu, tapi saya bingung memilih yang
mana." Kening gurunya berkerut, dan meminta Ririn menjelaskan. Ririn
pun menyebutkan keajaiban dunia versinya: bisa melihat, bisa
mendengar, bisa berkata-kata, bisa menyayangi, dan sebagainya.
Gurunya tertegun, sekaligus tersadar: betapa mudah kita mengagumi
karya hebat buatan manusia, dan menganggap biasa saja berbagai
keajaiban yang Tuhan karuniakan secara cuma-cuma!
Yesus mengecam Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum karena menyambut
dingin karya Tuhan di tengah mereka. Kota-kota itu termasuk daerah
yang pertama kali mendengar berita pertobatan yang disampaikan Yesus.
Berbagai mukjizat juga Dia lakukan. Yesus bahkan memilih Kapernaum
sebagai kediaman-Nya sekeluar dari Nazaret. Namun, kota-kota itu
bergeming. Berita Injil dan mukjizat Tuhan tak menggugah mereka
bertobat dan berbalik dari kejahatan mereka.
Menurut Roma 2:4, maksud kemurahan Allah ialah menuntun kita ke dalam
pertobatan: mengalami perubahan hati, sikap, dan perilaku. Bagaimana
tanggapan kita terhadap firman yang kita dengar dan kita baca?
Bagaimana sikap kita terhadap kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam
hidup kita? --ARS
BERSYUKUR ATAS KEAJAIBAN TUHAN DALAM HIDUP KITA
ADALAH TITIK AWAL MENUJU PERTOBATAN DAN PERUBAHAN HIDUP
|