Bacaan : 1Yohanes 3:11-18
Mbah Wrekso, seorang janda lanjut usia yang tidak memiliki anak,
sakit. Tim kunjungan jemaat menjenguknya.
"Cepat sembuh ya, Mbah. Kami dukung dalam doa," kata ketua tim.
"Kalau mendukung doa itu tidak perlu. Aku masih bisa berdoa sendiri,"
jawab Mbah Wrekso membuat pengunjungnya tersentak.
"Tetapi, kalau kalian memang mau membantu, bantulah cuci
piring-piring di dapur. Beberapa hari ini sudah menumpuk."
Meskipun hanya guyonan, kisah di atas mengingatkan kita untuk
mengembangkan kepekaan dalam menolong dan mengasihi sesama. Berdoa
untuk kebutuhan orang lain tentu tidak keliru, tetapi alangkah
baiknya kalau kita memeriksa lebih jauh, adakah tindakan praktis yang
dapat kita lakukan untuk meringankan beban orang tersebut. Hal itu
selaras dengan nasihat Yohanes. Ia menegaskan bahwa kasih itu bukan
hanya berupa perasaan yang hangat, sikap yang baik, atau perkataan
yang ramah. Kasih tidak jarang mengundang kita untuk melakukan
perbuatan baik sebagai perwujudannya. Tanpa disertai perbuatan, kasih
akan menyerupai tong kosong berbunyi nyaring.
Hari ini, sesungguhnya setiap hari, merupakan kesempatan baik bagi
kita untuk mengungkapkan kasih. Bukan hanya dengan perkataan,
melainkan juga dengan perbuatan (ayat 18). Orang-orang di sekeliling
kita, baik di rumah maupun di tempat kerja, pasti memiliki berbagai
kebutuhan. Selain menyampaikan perkataan yang simpatik, kita dapat
melangkah lebih jauh dalam menunjukkan kasih kita, yaitu dengan
memikirkan cara-cara praktis untuk menolong mereka --ARS
TIDAK SETIAP PERBUATAN DILANDASI KASIH
TETAPI KASIH SENANTIASA MELAHIRKAN TINDAKAN
|