Bacaan : Matius 1:18-25, 2:9-11
Tanggal 26 Desember di Inggris dikenal sebagai Boxing Day.
Sejarahnya, dulu di Inggris, para pelayan diharuskan tetap bekerja
pada hari Natal. Tenaga mereka dibutuhkan karena majikan mereka
biasanya mengadakan pesta Natal. Sehari setelah Natal barulah mereka
bisa pulang kepada keluarganya. Biasanya pada saat mereka pulang itu,
para majikan membekali mereka dengan berbagai hadiah. Saat ini,
Boxing Day berkembang menjadi saat memberi hadiah kepada orang-orang
yang sepanjang tahun telah mengabdikan dirinya melayani di berbagai
bidang. Misalnya, para pekerja rumah tangga, penjaga mercusuar,
tukang sampah, dan polisi lalu lintas.
Semangat utama yang melandasi Natal adalah semangat memberi. Berawal
dari Allah yang memberi Putra-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan
manusia. Lalu, Maria dan Yusuf yang memberi dirinya untuk dipakai
Allah sebagai sarana karya penyelamatan-Nya (Matius 1:18-25). Juga
para majus yang datang jauh-jauh dari Timur untuk memberi benda-benda
berharga sebagai persembahan buat Sang Bayi Kudus (Matius 2:9-11).
Maka, sebaiknyalah semangat memberi ini pula yang kita hidupi pada
masa Natal ini; memberi kepada para sahabat dan handai taulan;
memberi kepada orang-orang yang sehari-hari kita temui di kantor, di
jalan, di gereja. Pemberian kita bisa berupa materi, bisa juga berupa
tangan yang siap membantu, telinga yang siap mendengar, hati yang
terbuka untuk menjadi saluran kasih sayang dan tercermin dalam senyum
ramah, ungkapan terima kasih yang tulus, dan sapaan hangat. Mari kita
jadikan Natal sebagai saat untuk memberi --AYA
PADA MASA NATAL INI BERAPA BANYAK ORANG
YANG TELAH MERASAKAN SUKACITA KARENA PEMBERIAN KITA?
|