Bacaan : Mazmur 12:1-9
Kita merasa senang, hati kita menjadi hangat, apabila mendengar
kata-kata yang manis. Dampak kata-kata manis memang baik bagi jiwa.
Sayangnya, kata-kata manis tidak selalu keluar dari hati yang manis
pula. Bahkan, bisa juga hal itu diucapkan dengan maksud licik,
didorong oleh akal bulus, atau sarat dengan keculasan. Inilah
ironinya. Kata-kata manis yang enak didengar telinga tidak selalu
berasal dari hati yang manis!
Orang-orang yang berada di seputar lingkungan pemazmur adalah mereka
yang "berkata dusta ... dengan bibir yang manis dan hati yang
bercabang" (ayat 3). Dengan itu mereka menindas orang yang lemah dan
miskin (ayat 6). Rupanya, kata-kata manis telah menjadi sarana
penindasan pada zaman itu! Pemazmur yang tak dapat menerima hal ini,
memohon agar Tuhan campur tangan. Serunya, "Tolonglah kiranya ..."
(ayat 2). Atas pengaduan ini, Tuhan berkenan mendengar dan bertindak:
"Sekarang juga Aku bangkit ... Aku memberi keselamatan kepada orang
yang menghauskannya" (ayat 6). Inilah janji Tuhan yang teruji (ayat
7). Yakni bahwa Tuhan membela orang yang ditindas oleh mereka yang
menggunakan kata-kata manis sebagai alat untuk menguasai orang lain.
Bagaimana kita berkata-kata terhadap orang lain? Terhadap keluarga,
rekan sekerja, tetangga kiri-kanan, terhadap orang yang lebih lemah?
Semoga setiap kata-kata yang kita ucapkan merupakan kata-kata yang
tulus dan jauh dari maksud menindas orang. Sebab apabila tidak
demikian, Tuhan akan mengganjar kita. Bersikap dan berkata-katalah
manis; bukan hanya di mulut, tetapi juga dari dalam hati! --DKL
KARAT DI HATI TERJADI APABILA KATA-KATA MANIS
DIPAKAI SEBAGAI SENJATA MANIPULASI
|