Bacaan : Kisah 9:1-16
Seorang petani berduka. Keledainya, harta tunggalnya, terperosok ke
sumur. Ia minta tolong pada tetangga, tetapi usahanya sia-sia. Semua
membujuk supaya ia merelakan keledainya. Dan, agar kelak bangkai si
keledai tak menimbulkan bau dan penyakit, tetangga mengusulkan agar
sumur itu ditimbun tanah. Sementara tanah ditimbunkan ke sumur, si
keledai terus merintih. Mereka berpikir si keledai pasti sudah mati.
Namun, semua kaget ketika keledai itu melompat keluar! Ternyata,
setiap gundukan tanah yang menimpa dan menyakiti si keledai itu
selalu dikibaskannya, dan lama-lama menumpuk di bawah kaki dan
menjadi pijakan baru baginya.
Tatkala Paulus melayani Tuhan, muncul banyak tantangan, hambatan,
bahkan aniaya. Namun, ia tak lekas putus asa dan menyerah, sebab ia
sangat yakin akan panggilannya memberitakan Injil bagi bangsa-bangsa
non-Yahudi. Dan, pengalaman bergaul dengan Tuhan membuatnya kuat
menanggung segala hal. Bahkan, segala hambatan justru menjadi pijakan
baru baginya untuk memenuhi panggilan pelayanan Tuhan baginya,
menjadi "... alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di
hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel
(ayat 15). Dan bagaimana Tuhan membuat Paulus bisa memberitakan Injil
kepada raja-raja dan penghuni istana? Ternyata melalui aniaya dan
penjara, ia berjumpa para pejabat tinggi yang mengadili kasusnya
(bandingkan Kisah Para Rasul 24,25,26,28).
Jika hari ini Anda mengalami kesulitan, hambatan, dan tantangan:
jangan menyerah. Dengan mata iman yang mengarah kepada Kristus, mari
jadikan segala kesulitan itu menjadi pijakan kuat untuk mencapai
tujuan Tuhan bagi hidup kita --SST
KETIKA KITA MEMINTA ALLAH MEMIMPIN HIDUP KITA
SETIAP PERISTIWA PASTI BERGUNA BAGI KEBAIKAN KITA
|