Bacaan : Filipi 4:1-8
Sikap adalah pilihan pribadi. Apabila pikiran dipenuhi hal negatif,
sehingga keluar sikap buruk seperti murung, putus asa, dendam, kita
tidak boleh menyalahkan orang lain atau kondisi di sekitar, sebab itu
pilihan kita. Seandainya kita mau mengubah pikiran ke hal yang
optimis dan positif, maka sikap kita pun akan mengikuti. Yang unik,
dalam waktu yang bersamaan, otak kita tak dapat memikirkan dua hal
sekaligus. Jadi, kita harus memilih.
Hari ini kita diminta memikirkan semua yang benar, mulia, manis,
sedap didengar, bajik, dan patut dipuji (ayat 8). Mungkin hidup Anda
saat ini sungguh terasa pahit, getir, dan sulit, tetapi mari kita
lihat Paulus. Ketika ia menasihati jemaat Filipi yang menghadapi
tekanan dan kesulitan hidup, Paulus sendiri sebenarnya sedang sangat
susah. Ia menuliskan surat itu dari dalam penjara, dalam kondisi
teraniaya karena Injil. Namun, ia memilih bersikap positif dan
optimis. Jadi, ia bisa melihat peluang untuk memberitakan Injil
kepada para narapidana, pegawai penjara, bahkan pejabat istana yang
menangani kasusnya (Filipi 1:12-14). Bahkan, ia menghibur banyak
jemaat yang ditimpa kesulitan melalui suratnya, sebab dalam penjara
ia punya banyak waktu untuk menulis, berdoa, dan memuji Tuhan.
Paulus dapat melakukan hal ini karena ia memilih untuk menambatkan
hatinya kepada Allah; memenuhi hatinya dengan kasih kepada jiwa-jiwa
terhilang dan jemaat yang dilayaninya. Maka, penjara hanya bisa
mengurung tubuhnya. Sedang pikirannya tetap dipenuhi oleh semua yang
benar, mulia, manis, sedap didengar, bajik, dan patut dipuji. Jika
Anda sedang susah, mengapa harus menjadi lebih susah dengan memilih
sikap pesimis atau negatif? Ayo bangkitlah! --SST
SEBUAH HARI CERAH BISA DIMENDUNGKAN OLEH KEMURUNGAN
SEBUAH HARI MENDUNG BISA DICERAHKAN OLEH SENYUMAN
|