Bacaan : Mazmur 90:1-12
Pak Permana meninggal dunia," kata teman saya di telepon. Saya
terkesiap. Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana.
Masih segar bugar. Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau
dan tertawa-tawa. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana
akan sesingkat itu. Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung.
Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit. Lalu, tidak lama
sesudah itu ia pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia
mengembuskan napasnya yang terakhir.
Begitulah hidup. Sangat ringkih. Bisa dibilang, kita ini berada di
bawah bayang-bayang kematian. Setiap saat kita bisa dijemput oleh
kematian. Kapan saja dan di mana saja. Tidak saja ketika usia kita
sudah uzur atau ketika tubuh sakit-sakitan. Namun juga saat kita
"masih" di usia muda, berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita
sehat. Kematian tidak pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang
situasi dan kondisi kita. Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita
ini seperti rumput; yang di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan
tetapi di waktu petang ia sudah lisut dan layu (ayat 5,6).
Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani
hari-hari, sekadar untuk menunggu kematian datang? Tidak. Kesadaran
bahwa kita bisa kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong
kita untuk hidup dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Soal
kapan pun kematian itu datang menjemput, kalau kita sudah berusaha
hidup bijak dan bajik di dalam Tuhan, kita akan menghadapinya dengan
tenang. Untuk itu, kuncinya adalah berjaga-jaga senantiasa -AYA
YANG PENTING BUKAN KAPAN KITA MATI
TETAPI BAGAIMANA KITA HIDUP
|