Bacaan : Kejadian 2:18-25
Pernahkah Anda kesepian? Bagaimana suasana hati Anda ketika itu?
Kelabu dan dingin? Lalu bayangkan, dalam suasana begitu, tiba-tiba
seseorang hadir dan membuat hati Anda hangat dan bahagia. Rasanya?
Sungguh menyenangkan!
Saat Adam kesepian, Allah merasa kasihan kepadanya. Jadi, untuk
memberinya penolong yang sepadan, Allah mengirim segala binatang
hutan dan burung agar diberi nama oleh Adam. Tujuannya, supaya ia
dapat memilih satu penolong baginya. Namun, tak ada yang sesuai.
Karena semua calon gagal, Tuhan Allah membuat Adam tertidur. Lalu
dari rusuk Adam dibangun-Nya (dari kata Ibrani banah, artinya
"melakukan karya seni bak seniman patung") seorang wanita (isyah).
Berbeda dengan bagaimana Adam dibentuk (yatsar, artinya "melakukan
karya seperti tukang") dari debu tanah menjadi laki-laki (isy).
Itulah pria dan wanita. Dibentuk dari bahan baku berbeda (debu tanah
dan rusuk) serta cara kerja berbeda pula (cara tukang dan cara
seniman). Walau demikian, pernikahan pertama itu mengandung semangat
kesatuan dalam perbedaan. Sampai Adam pun berkata: "Inilah dia tulang
dari tulangku, dan daging dari dagingku" (ayat 23).
Demikian pula yang semestinya terjadi dalam semua pernikahan. Bagi
calon pengantin yang merancang hidup baru dan pengantin baru, mungkin
ini menggairahkan. Namun bagi suami istri yang sudah lama berumah
tangga, perbedaan dalam kesatuan bisa jadi beban, bahkan beban berat!
Namun, kemungkinan besar persoalannya ada pada pemikiran kita
mengenai perbedaan. Jadi, mari mohon hikmat Tuhan; sebab siapa pintar
mengelola perbedaan akan menemukan kesepadanan -DKL
PERBEDAAN BUKAN BENCANA
JUSTRU PERBEDAAN YANG MEMBUAT HIDUP INI BERWARNA
|