Bacaan : Lukas 18:9-14
Ketika muridnya bertanya tentang ucapan yang paling disesalinya, sang
guru yang bijaksana menjawab, "Saat saya berkata: Syukurlah bukan
saya!". "Mengapa begitu, Guru?" tanya muridnya lagi. Sang guru lalu
bercerita, "Suatu hari, seorang tetangga mengabarkan bahwa terjadi
kebakaran hebat di desa saya. Sebagian besar rumah di sana habis
terbakar. Rumah saya selamat. Saat itulah saya spontan berkata,
\'Syukurlah!\' Itulah kalimat yang paling saya sesali, sebab bagaimana
mungkin saya bisa mensyukuri keuntungan diri sendiri di atas
kesusahan orang lain?"
Tidak salah kita bersyukur karena terhindar dari sebuah kejadian
buruk. Akan tetapi, menjadi salah kalau kemudian kita mengabaikan
orang lain yang tertimpa kejadian buruk itu. Tidak bersimpati kepada
orang yang mendapat kemalangan, karena sibuk mensyukuri keberuntungan
diri sendiri. Dalam kasus lain, hal ini mirip dengan sikap orang
Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Ia bersyukur karena "tidak
seperti orang-orang lain yang berdosa" (ayat 11).
Sebagai orang kristiani kita dipanggil untuk hidup dalam kasih
Kristus. Salah satu aspek dari kasih Kristus adalah simpati. Simpati
berasal dari kata Yunani syn artinya bersama dengan (together with),
dan paskhein artinya mengalami, menderita (to experience, to suffer).
Jadi, simpati adalah kesediaan untuk keluar dari perhatian terhadap
kesenangan diri sendiri dengan turut merasakan kesusahan orang lain.
Lawan dari simpati adalah antipati. Senang melihat orang lain susah,
dan susah melihat orang lain senang. Itu bukan sikap kristiani -AYA
JANGAN BERGEMBIRA
DI ATAS KEBURUKAN DAN KESUSAHAN ORANG LAIN
|