Bacaan : Imamat 25:1-22
Kehidupan kerap kali menjebak manusia dengan ritme yang terlalu cepat
dan tanpa jeda. Padahal Tuhan yang merancang manusia sejak semula,
memberi kita perintah untuk beristirahat, dengan mengkhususkan sabat.
Tuhan hendak menunjukkan cinta-Nya melalui sabat. Hidup seluruh
ciptaan akan seimbang melalui penerapan sabat. Bahkan, bukan manusia
saja yang diperintahkan untuk beristirahat, tetapi juga tanah. Dalam
Imamat 25, Tuhan Allah menerapkan tahun sabat bagi tanah untuk
berproduksi. Namun, Tuhan akan tetap mencukupkan makanan bagi umat
selama tahun itu, karena sejak tahun keenam Tuhan sudah mengirim
lebih banyak berkat (ayat 20, 21). Lebih jauh lagi, tahun kelima
puluh (tahun Yobel) dikhususkan untuk mengadakan pembebasan.
Sabat diadakan agar kita bergantung pada pemeliharaan Tuhan dan
menikmati kecukupan yang Tuhan sediakan. Ambil satu hari sabat setiap
minggu sebagai momen untuk membuang segala kekhawatiran kita dalam
mencari nafkah. Juga sebagai momen untuk belajar berserah total pada
pemeliharaan Tuhan.
Tentu beristirahat pada hari sabat tidaklah identik dengan usaha
mencari hiburan semata. Sabat perlu diisi dengan aktivitas-aktivitas
yang semakin mendekatkan diri kita kepada sang Ilahi. Aktivitas yang
memperkaya hidup batin seperti ibadah, bersekutu dengan saudara
seiman, menikmati waktu bersama keluarga, dan sebagainya. Tanpa
menjaga sabat, maka irama hidup kita tidak akan seimbang. Sabat akan
mengajar kita betapa seharusnya kita bergantung sepenuhnya kepada
Tuhan dan tidak khawatir secara berlebihan akan hidup ini -BL
KESEIMBANGAN HIDUP TERJADI KETIKA SABAT KITA JALANI
|