Bacaan : Kejadian 36:1-8
Saya mengenal seorang ibu yang begitu mengasihi anaknya. Bahkan
sekalipun si anak berlaku tidak baik, sang ibu tak kehilangan rasa
sayangnya. Suatu kali, si anak marah, meninggalkan rumah, dan tak
kembali. Beberapa orang meminta si ibu untuk membiarkannya saja
karena si anak sangat kurang ajar. Orang-orang yang tak tahan melihat
perilakunya mengatakan bahwa ia adalah "anak yang patut dibuang".
Akan tetapi, si ibu tidak menggubris. Ia terus berusaha mencari
anaknya dan berharap anaknya kembali. Bagi saya, kasih ibu ini tampak
ajaib, sebab saat orang lain "membuang" si anak, sang ibu mencarinya.
Gambaran tokoh Esau dalam Alkitab juga serupa dengan anak di atas.
Esau, bisa dikatakan tidak menghargai kasih Allah. Ia memandang
rendah hak kesulungan yang dimilikinya dan dengan mudah menjualnya
dengan harga yang tak setimpal. Namun, Alkitab tak berhenti mencatat
tentang kehidupannya, dan seluruh ayat dalam Kejadian 36 menceritakan
bagaimana Allah terus memelihara Esau dan keturunannya. Walaupun Esau
bisa dianggap sebagai "anak yang kurang ajar dan patut dibuang",
tetapi Allah tetap mengasihinya. Itulah kejaiban kasih Allah.
Dalam perjalanan hidup ini, kita juga bisa bersikap "kurang ajar".
Bahkan barangkali manusia bisa tidak tahan menghadapi sikap atau
perilaku kita. Namun, ketika orang lain sulit menerima kita, Allah
terus mencari kita. Kasih-Nya selalu sangat besar kepada kita. Dan
setiap kita adalah objek kasih-Nya yang besar. Maukah kita menyambut
kasih ajaib itu dan menghargainya dengan sungguh-sungguh? -RY
BAHKAN KETIKA SEMUA ORANG SEOLAH-OLAH "MEMBUANG" KITA
ALLAH TERUS MENCARI KITA
|