Bacaan : 2Samuel 13:1-22
Kebahagiaan dan kesedihan biasanya berawal dari keluarga. Kita boleh
sukses dalam segala hal, tetapi kalau misalnya anak-anak berantakan
hidupnya, kita akan merana. Benar seperti isi petikan lagu pengiring
sinetron Keluarga Cemara: "Harta yang paling berharga adalah
keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling
bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga."
Ironisnya, orang lebih kerap menomorduakan keluarga. Lebih
mengutamakan karier atau hobi. Daud adalah salah satu contohnya. Daud
mampu mengurus banyak hal dengan sukses. Ia berhasil menyatukan dua
belas suku Israel menjadi satu bangsa. Ia adalah arsitek militer yang
hebat. Ia berhasil mendirikan ibukota, membawa pulang tabut Allah ke
Yerusalem, dan membuka jalan bagi pembangunan Bait Allah. Ia menulis
banyak mazmur yang indah. Namun, menyangkut urusan keluarga, Daud
gagal total. Bacaan kita hari ini adalah salah satu contoh tragedi
yang terjadi dalam keluarga Daud. Absalom, anaknya, pun kemudian juga
memberontak kepadanya (2Samuel 15:1-12).
Tampaknya Daud memang kurang memerhatikan keluarga. Ia banyak sekali
menulis mazmur, tetapi tidak ada mazmur yang ia tulis mengenai atau
untuk anak-anaknya. Ia berdoa memohonkan pengampunan bagi pasukannya,
mendoakan Yonatan, sahabatnya, juga Saul, musuh bebuyutannya, tetapi
tidak untuk keluarganya. Ya, kita tidak pernah membaca mazmur dan doa
yang ditulis oleh Daud untuk keluarganya. Daud pun menuai hasil dari
sikapnya itu. Sebuah ironi -AYA
KEBAHAGIAAN IBARAT SEBUAH RUMAH
DAN KELUARGA ADALAH FONDASINYA
|