Bacaan : Amsal 31:10-31
Cindy dan Chip sudah 5 tahun pisah rumah. Rencananya, mereka akan
bercerai pada akhir 2007. Lagipula, Chip sudah punya kekasih baru.
Pada awal tahun, sesuatu terjadi. Chip menderita gagal ginjal parah.
Cindy tidak tega melihatnya. "Bagaimanapun, ia masih suamiku,"
ujarnya. Maka ia sumbangkan satu ginjal untuk Chip, tanpa ikatan apa
pun. Rencana cerai tetap berjalan. Namun setelah keduanya pulih dari
operasi, mereka jatuh cinta lagi! Sang suami berujar, "Buat apa aku
mencari perempuan lain, jika di sini ada seseorang yang mau berkorban
begitu besar untukku?" Akhirnya, Chip meninggalkan kekasih gelapnya
dan kembali kepada Cindy.
Pengorbanan istri sanggup meluluhkan hati suami. Pengabdian istri
adalah kecantikan batin yang tak ternilai. Ada banyak bentuk
pengorbanan. Dalam kitab Amsal, pengorbanan istri ditunjukkan dengan
perjuangannya setiap hari. Mulai dari memenuhi kebutuhan sandang
pangan suami dan anak-anaknya (ayat 13-19, 21,22) sampai menjadi guru
dalam keluarga (ayat 26,27). Dari pagi hingga malam ia berjerih
lelah. Mengupayakan yang terbaik, demi masa depan keluarga. Ia lelah,
tetapi bahagia. "Ia tertawa tentang hari depan".
Dewasa ini, banyak suami atau anak memandang sepele pengorbanan istri
atau ibu. Kesibukannya mengurus rumah ataupun bekerja dianggap sudah
biasa. "Memang sudah kewajibannya." Padahal di balik cerita sukses
suami maupun keberhasilan anak, ada pengorbanan istri atau ibu. Istri
atau ibu kita mungkin belum pernah mendonorkan ginjalnya. Namun,
pengorbanannya dari hari ke hari tidak kurang. Kita patut
menghargainya lebih! -JTI
ISTRI KITA MUNGKIN BUKAN ORANG TERCANTIK TETAPI IA ADALAH ORANG
YANG TERBAIK
|