Bacaan : Yohanes 2:1-5
Setiap kali kisah di Kana dikhotbahkan, iman kita diteguhkan dengan
mukjizat yang Yesus lakukan. Kerinduan untuk mengundang Yesus ke
dalam hidup kita semakin besar. Memang benar bahwa jika Yesus hadir,
maka kekurangan dalam hidup kita pasti dapat Yesus atasi. Namun lebih
dari sekadar mengharap mukjizat-Nya, kita patut mengamati dan meniru
sikap hidup Yesus dalam peristiwa ini.
Pertama, Dia mau hadir dalam pesta pernikahan. Artinya, Yesus mau
bergaul, tidak menyendiri atau di Bait Suci saja. Kita pun mesti
hadir di masyarakat dan lingkungan, berada di tengah orang banyak,
mungkin di sana kita dapat melakukan sesuatu yang berguna.
Kedua, Ibu Maria meyakini-Nya (ayat 4,5) sebagai Pribadi yang bisa
dimintai pertolongan. Ibu Maria tidak meminta tolong kepada orang
lain. Ia langsung datang kepada Yesus karena yakin Yesus pasti dapat
menolong. Semoga setiap kita sebagai anak-anak-Nya juga dipercaya
sebagai tempat ke mana orang dapat datang meminta pertolongan. Orang
boleh merasa yakin mereka tidak akan ditolak oleh orang kristiani.
Ketiga, Yesus rela berkurban bagi orang lain. Memang belum saat-Nya
Yesus "dikenali" orang banyak lewat mukjizat yang Dia buat. Bila
publik mulai mengetahui hal itu, kemungkinan besar akan muncul
berbagai reaksi yang dapat menyulitkan Yesus. Walaupun demikian, Dia
tetap membuat mukjizat agar pesta pernikahan di Kana terselamatkan.
Begitulah Yesus berkurban dan menolong, agar orang lain
terselamatkan.
Belajar dari sikap hidup Yesus, biarlah hari ini kita meniru Dia!
-MNT
SIKAP HIDUP ORANG BANYAK MUNGKIN MEMENGARUHI KITA NAMUN BIARLAH
SIKAP HIDUP YESUS YANG MENJADI CETAK BIRU KITA
|