Bacaan : Filemon 8-19
?>Suami istri itu hampir bercerai karena cekcok terus. Kepada
pendeta, sang suami menyatakan kekesalannya. "Saya jengkel sekali!
Setiap kali bertengkar, istri saya selalu mengungkit lagi kesalahan
saya di masa lalu. Satu per satu. Akibatnya pertengkaran menjadi
semakin seru. Kami meributkan kembali masalah yang sudah
diselesaikan."
Mengungkit kesalahan masa lalu adalah kebiasaan buruk. Itu tandanya
kita tidak mau memandang orang lain secara baru. Kita memberi
stempel: "sekali begitu, tetap begitu." Ini membuat orang frustrasi.
Bacaan kita hari ini mengisahkan ada seorang tuan bernama Filemon. Ia
mempunyai budak bernama Onesimus. Budak ini pernah mencuri barang
tuannya lalu lari dari rumah. Tentu saja Filemon sangat marah.
Di tengah pelariannya, Onesimus berjumpa dengan Paulus. Tuhan
bekerja. Budak ini bertobat dan menerima Kristus. Hidupnya diubahkan.
Paulus lantas meminta Onesimus balik kepada tuannya. Karena Paulus
kenal dekat dengan Filemon, ia mengirim sepucuk surat. Isinya meminta
agar Filemon bisa memandang Onesimus secara baru, menerimanya bukan
lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara seiman. Jangan ungkit
lagi kesalahannya, sebab Onesimus sudah berubah.
Tampaknya, kita harus belajar mengampuni seperti Kristus. Dia
mengampuni secara tuntas. Dia tak pernah mengungkit lagi dosa kita di
masa lalu. Ketika mengampuni, Yesus membuang atau mengubur dosa kita.
Di hadapan-Nya kita menjadi manusia baru. Bukankah kita harus
mengampuni orang lain, sama seperti Kristus mengampuni kita? -JTI
ORANG YANG TERUS MENGUNGKIT KESALAHAN MASA LALU
MEMPERSULIT TERJADINYA PEMBARUAN DI MASA DEPAN
|