Bacaan : Mazmur 150
Kata "Puji Tuhan" kerap kita dengar saat seseorang bersaksi bahwa ia
telah mengalami atau menerima berkat Tuhan; misalnya mendapatkan
sesuatu, lulus ujian, atau sembuh dari sakit. Sepertinya kata ini
tidak jauh dengan perasaan bersyukur. Namun, apa benar hanya pada
saat-saat demikian kita perlu berkata, "Puji Tuhan"?
Mazmur 150 mengajarkan kepada kita, mengapa dan kapan kita harus
memuji-Nya. Mazmur ini sungguh tepat untuk mengakhiri kitab yang
penuh dengan berbagai pengalaman dan perasaan para penulisnya. Para
pemazmur menuangkan setiap pengalaman mereka-bisa pujian atau
keluhan, syukur atau permohonan, keyakinan atau keraguan. Namun, atas
setiap pengalaman naik turun itu, setelah perjuangan, pergumulan,
peperangan yang harus dilalui, mereka mengakhirinya dengan satu
nyanyian yang mantap bahwa Tuhan sungguh layak dipuji.
Sama dengan para pemazmur, tidak ada anak Tuhan yang luput dari
gelombang kehidupan. Perjalanan hidup manusia selalu kaya dengan
aneka pengalaman; baik-buruk, senang-susah, berhasil-gagal. Namun,
atas setiap pengalaman itu, Allah tetap berdaulat. Dan bila kita
hidup melekat kepada-Nya, pasti kemenangan yang akan kita alami.
Kelak seluruh dunia akan menaikkan pujian seperti Mazmur 150 ini. Dan
pujian yang dipersembahkan bagi-Nya, disajikan layaknya sebuah
orkestra: semua alat musik dipadu untuk menembangkan kemegahan-Nya!
Ditambah dengan tari-tarian yang mengekspresikan syukur melimpah.
Jadi mulai saat ini, atas setiap hal yang terjadi dalam hidup kita,
mari berlatih untuk berkata, "Puji Tuhan!" -ENO
TERPUJILAH TUHAN YANG MULIA
ATAS SETIAP PERISTIWA YANG KITA TERIMA
|