Bacaan : Yohanes 3:14-20
Saya mendapat kiriman sebuah klip video dari seorang teman di
Jakarta. Kisahnya, ada seorang ibu yang menemukan seekor singa di
sebuah hutan di Cali, Kolombia. Singa itu terluka parah dan hampir
mati. Si ibu membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih
hingga sembuh. Kemudian ia menyerahkan singa itu ke kebun binatang
setempat supaya mendapat perawatan yang lebih baik.
Klip video berdurasi sekitar 40 detik itu berisi tayangan ketika
suatu hari si ibu mengunjungi singa itu. Melihat ibu penyelamatnya
datang, serta merta singa itu berdiri dan dari dalam kerangkeng, ia
meraih dan memeluk erat si ibu dengan kedua kaki depannya. Si ibu pun
mengusap-usap kepala singa itu. Mengharukan sekali.
Seekor binatang buas pun tahu berterima kasih kepada penyelamatnya.
Lalu, bagaimana dengan manusia? Mirip dengan si ibu yang
menyelamatkan singa yang terluka itu, Tuhan Yesus datang ke dunia
untuk menyelamatkan manusia yang terluka-bahkan telah mati karena
dosa-dosa yang mengerikan. Namun, apa yang kemudian Dia terima dari
manusia? Justru penolakan dan penyaliban! Sungguh ironis.
Kita tentunya tidak ingin mengulangi kesalahan manusia dua ribu tahun
yang lalu. Bayangkanlah kondisi kita yang terluka dan tanpa harapan;
kematian seolah-olah tinggal menunggu waktu. Lalu Tuhan Yesus datang;
menolong, merawat, dan menyelamatkan kita, sehingga kita sembuh
benar. Kita dipulihkan. Adakah hidup kita sudah menunjukkan rasa
terima kasih yang menyukakan hati-Nya? -AYA
KALAU HEWAN SAJA TAHU BERTERIMA KASIH KENAPA KITA TIDAK?
|