Bacaan : Efesus 5:14-21
Saya mendapat puisi ini dari sebuah e-mail yang dikirim seorang teman
di Jakarta:
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kejernihan.
Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa Anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari
Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu Anda terlalu singkat
untuk hidup dalam dunia Anda sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik bagi jiwa.
Sediakan waktu bersama keluarga, itulah mutiara paling indah.
Sediakan waktu pribadi untuk di bersama Tuhan, itulah sumber
kekuatan.
Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah
akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana
kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang
sama; 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun. Tidak
kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa
berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya, tetapi ada juga orang yang
"nol besar" alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya
terletak pada pengelolaan waktu.
Rasul Paulus membedakan orang arif dengan orang bebal dari cara
hidupnya. Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia
menggunakan waktunya. Tergolong yang manakah kita? Orang arif atau
orang bebal? -AYA
WAKTU TIDAK AKAN TERULANG, SEKALI BERLALU SELAMANYA BERLALU
PERGUNAKAN WAKTU SEBAIK-BAIKNYA DAN SEBENAR-BENARNYA
|