Bacaan : 1Petrus 3:8-12
Dengan bergurau, seseorang mendefinisikan kebahagiaan sebagai "suatu
sensasi menyenangkan yang muncul karena membayangkan kesengsaraan
orang lain."
Barangkali hanya sedikit dari kita yang mengaku setuju dengan
definisi ini. Yang saya khawatirkan adalah bahwa sebenarnya kita
semua membenarkan hal itu. Memang dapat dimengerti bila kita
menginginkan kesuksesan seperti orang lain. Namun, kita salah jika
berpikir, "Jika saya tidak bisa memiliki sesuatu, maka orang lain
tidak boleh mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu."
Saat saya berusia 13 tahun, saya mulai sadar bahwa adik saya Len, 10
tahun, lebih berbakat di bidang atletik daripada saya. Awalnya ada
sedikit perasaan kesal yang muncul dalam diri saya, tetapi syukurlah
perasaan itu tidak sempat berkembang menjadi iri hati. Mengapa?
Karena saya mengasihi Len. Tak lama kemudian, saya mulai bangga
dengan prestasi atletiknya dan ikut bahagia melihatnya menang dan
sedih saat ia kalah.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa kasih dan iri hati tidaklah
mungkin hidup bersama dalam hati manusia. Sekarang, setiap kali iri
hati menampakkan wajah buruknya, saya selalu mengingat bagaimana
kasih saya kepada Len mampu mengusir perasan itu dari diri saya.
Saya juga mengingat nasihat dalam 1 Petrus 3:8 untuk "mengasihi
saudara-saudara." Ayat tersebut memampukan saya untuk "bersukacita
dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang
menangis" (Roma 12:15).
Tekad untuk mengasihi orang lain adalah rahasia untuk mengatasi rasa
iri hati –Herb Vander Lugt
SEDOSIS KASIH SEPERTI KASIH KRISTUS SETIAP HARI
AKAN MENYEMBUHKAN PENYAKIT IRI HATI
|