Bacaan : Yeremia 32:1,2,16-30
Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali
ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat
yang buruk. Namun, saya mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada
diri saya sendiri: "Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di
saat-saat menyenangkan?"
Saya sering kali melihat orang-orang yang menjauh dari Tuhan, bukan
saat hidup mereka sulit, tetapi justru saat hidupnya berjalan
dengan baik. Saat itulah Allah tampaknya tidak diperlukan lagi.
Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas
kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak
mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat
memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang
telah diberikan-Nya untuk kita.
Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewin
menulis, "Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan
kita ... tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita." Jika kita
menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk
mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel.
Meskipun Allah telah memberi mereka "suatu negeri yang berlimpah-
limpah susu dan madunya," tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga
Dia "melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini" (Yeremia
32:22,23).
Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya, dan bukan
kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya. Ketika kita sadar akan hal itu,
maka hubungan kita dengan Tuhan tidak melemah, bahkan akan semakin
dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya –Julie Ackerman Link
KEBAIKAN ALLAH MENYUARAKAN SIFAT ALLAH
YANG BEGITU BANYAK
|