Bacaan : Matius 5:1-10
Saya membaca sebuah berita tentang seorang wanita yang tidak pernah
menangis selama 18 tahun yang disebabkan oleh faktor fisik, bukan
emosional. Para dokter mengatakan bahwa ia menderita suatu penyakit
langka, yakni sindrom Sjogren. Tanpa diketahui sebabnya, antibodi
pada tubuhnya menyerang kelenjar air matanya, seolah-olah kelenjar
itu adalah benda asing yang tidak diinginkan.
Itu mengingatkan saya pada masalah kerohanian yang dihadapi umat
Allah. Mereka seharusnya dapat menangis, tetapi tidak dapat. Mereka
seharusnya belajar dari apa yang dimaksudkan Yesus ketika Dia
berkata, "Berbahagialah orang yang berdukacita" (Matius 5:4).
Kadang kala kita berpikir bahwa air mata menandakan kelemahan.
Namun, jika benar demikian, mengapa Yesus menangis? (Lukas 19:41).
Mengapa Yakobus minta orang-orang kristiani supaya menangisi dosa-
dosa mereka? (Yakobus 4:9).
Ya, setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam mengekspresikan
emosi. Namun air mata, dalam arti sebenarnya, bukanlah pokok
permasalahan yang sesungguhnya. Yang terpenting adalah sikap hati.
Seberapa dalamkah kita merasakan dampak dari dosa kita. Apakah kita
benar-benar merasa sedih secara rohani? Apakah kita menderita
melihat konsekuensi tragis yang ditimbulkan oleh dosa kita dalam
relasi kita dengan orang lain? Yang saya maksudkan bukanlah
menunjukkan kesedihan pura-pura, tetapi apakah kita juga merasakan
kesedihan yang sama dengan yang dirasakan Allah terhadap kejahatan?
Apakah kita bersedia mengubahnya? Ataukah air mata kita juga sudah
kering? –Mart De Haan II
KETIDAKPEDULIAN TERHADAP KEJAHATAN
ADALAH KEJAHATAN YANG BESAR
|