Bacaan : Imamat 6:1-7
Seorang pencuri di New Jersey melakukan pencurian sebanyak 7.000
dolar dalam bentuk perhiasan, koin kuno, dan uang tunai dari seorang
janda. Semua barang yang dicuri tersebut merupakan barang-barang
peninggalan suaminya yang masih tersisa.
Saat memilah-milah barang curiannya, pencuri itu menemukan beberapa
amplop persembahan gereja berisi uang yang akan dipersembahkan
wanita itu kepada Tuhan. Tanpa melihat isinya terlebih dahulu,
pencuri itu langsung memasukkan semuanya ke dalam amplop lain,
menuliskan alamat, lalu mengirimkannya ke gereja wanita itu.
Ketika sang pendeta tahu apa yang telah terjadi, ia berkomentar,
"Ini adalah ciri khas kebingungan moral zaman ini. Orang berpikir
bahwa mencuri dari janda dan anak-anak dianggap tidak apa-apa,
sementara mencuri dari gereja dianggap tindakan tercela."
Pencuri itu mengabaikan satu kebenaran penting: Dosa terhadap sesama
adalah dosa terhadap Allah (Imamat 6:2). Saya khawatir kita semua
cenderung berpikir bahwa batas harta kepunyaan Allah berakhir di
belakang gereja. Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Segala harta
benda di dunia ini dan setiap orang adalah kepunyaan Allah. Jika
kita menghormati Dia, itu berarti kita juga harus menghormati harta
benda yang telah dipercayakan Allah kepada anak-anak-Nya.
Orang yang takut akan Allah dan yang menyadari bahwa berbuat dosa
terhadap sesama berarti berdosa terhadap Dia adalah seorang yang
bijaksana —Mart De Haan II
KEJAHATAN TERHADAP SESAMA ANDA
MENCIPTAKAN PAGAR PEMISAH ANTARA ANDA DAN ALLAH
|