Bacaan : Yehezkiel 14:1-8
Ketika saya dan suami saya pergi mengabarkan Injil untuk pertama
kalinya, saya prihatin melihat maraknya materialisme di masyarakat
kami. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya
pun bisa menjadi orang yang materialistis. Lagi pula, bukankah
sewaktu kami pergi untuk mengabarkan Injil, kami pergihampir tanpa
membawa apa-apa? Bukankah kami harus tinggal di apartemen kuno yang
tak terpelihara dengan perabotnya yang sudah usang? Saya pikir
materialisme tidak bisa menyentuh kami.
Namun, perasaan tidak puas perlahan-lahan mulai berakar dalam hati
saya. Tak lama kemudian, saya mulai memimpikan benda-benda bagus dan
diam-diam merasa kesal karena tidak dapat memiliki benda-benda
tersebut. Suatu hari, Roh Allah membuka mata saya terhadap suatu
pemahaman yang menyentak. Materialisme tidak harus berarti memiliki
harta benda, tetapi dapat berupa keinginan untuk memilikinya. Saya
terpaku karena merasa bersalah telah bersikap materialistis! Tuhan
telah menunjukkan bahwa ketidakpuasan saya telah menjadi berhala
dalam hati saya. Hari itu saya menyesali dosa yang tidak kentara
ini, dan saat itu juga Allah kembali menguasai hati saya sebagai
singgasana-Nya yang sah. Sudah tentu saya merasakan kepuasan yang
mendalam, bukan karena harta benda, melainkan karena Dia.
Di zaman Yehezkiel, Tuhan pun menunjukkan penyembahan berhala di
hati umat-Nya (Yehezkiel 14:3-7). Dan sekarang, Dia rindu melihat
kita membersihkan hati dari segala yang merusak kepuasan kita akan
Dia —Joanie Yoder
BERHALA ADALAH SEGALA SESUATU
YANG MERAMPAS SINGGASANA ALLAH YANG SAH
|