Bacaan : Markus 6:30-34
Allah menuliskan irama hidup kita. Dan tugas kita adalah mengikuti
arahannya dalam menyenandungkan, menyelaraskan, memadukan, dan
menyanyikan sebuah irama.
Melayani Tuhan, seperti halnya menyanyi, dapat membangkitkan
semangat dan membanggakan. Namun, seperti halnya ketika musik
interlude [nada sela di tengah-tengah lagu, biasanya penyanyi
berhenti menyanyi] mengalun, saat kita disisihkan karena sakit,
digantikan orang lain, atau pensiun, kita bisa frustasi dan kecewa.
Ketika Allah berkata, "Mari ... beristirahatlah" (Markus 6:31), kita
mungkin tidak ingin berhenti. Kita menganggap seakan-akan
pertunjukan kita sudah selesai dan kita sudah sampai pada akhir lagu
kita.
Jika kita membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan karena
ketidakaktifan, maka kita hanya akan memusatkan perhatian pada
kekurangan kita. Untuk itu, kita perlu mengingatkan diri kita
sendiri bahwa Tuhan barangkali menggunakan waktu istirahat kita
untuk membuat musik kita lebih baik.
Sang Konduktor Agung menghitung waktu dengan tepat. Dia memiliki
begitu banyak aransemen musik yang tidak kita ketahui. Jika mata
kita tetap tertuju kepada-Nya, maka di saat yang tepat Dia akan
memampukan kita untuk kembali bernyanyi.
Selain itu kita dapat menikmati waktu istirahat kita. Itu adalah
kesempatan untuk menenangkan jiwa dan mempersiapkan langkah kita
selanjutnya. Istirahat bukanlah suatu kesalahan atau penelantaran,
melainkan satu bagian penting dari simfoni yang Allah tuliskan di
awal hidup kita dan Dia melatih kita setiap hari.
Sang Konduktor tahu yang terbaik. Nantikanlah Dia –David Roper
ALLAH MENGGUNAKAN SAAT ISTIRAHAT KITA
UNTUK MEMPERSIAPKAN KITA MENUJU AWAL YANG BARU
|