Bacaan : 1Samuel 9:1-6
Beberapa tahun yang lalu saya dan istri saya berjalan-jalan
menyusuri kota London. Setelah beberapa saat lamanya, sampailah kami
di Godliman Street (Jalan Orang Saleh). Menurut cerita, dulunya ada
seorang pria yang hidupnya benar-benar kudus tinggal di sana. Karena
itu, dahulu jalan itu dikenal sebagai "jalan menuju ke rumah orang
saleh". Nama jalan itu mengingatkan saya pada cerita dalam kitab
Perjanjian Lama.
Ayah Saul mengirim anaknya bersama seorang bujang untuk mencari
keledai-keledai yang hilang. Mereka mencari keledai-keledai itu
selama berhari-hari, tetapi ternak-ternak itu tidak juga ditemukan..
Saul mulai menyerah dan ingin kembali ke rumah. Namun, bujangnya
menunjuk ke arah Rama, desa tempat tinggal Nabi Samuel, dan berkata,
"Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat;
segala yang dikatakannya pasti terjadi. Marilah kita pergi ke sana
sekarang juga, mungkin ia dapat memberitahukan kepada kita tentang
perjalanan yang kita tempuh ini" (1 Samuel 9:6).
Di sepanjang hidupnya sampai ia tua, Samuel telah menjalin
persahabatan dan persekutuan dengan Allah, sehingga perkataannya
memiliki kuasa kebenaran. Orang-orang mengenalnya sebagai nabi
Tuhan. Maka "pergilah mereka [Saul dan bujangnya] ke kota, ke tempat
abdi Allah itu" (ayat10).
Oh, jika saja hidup kita begitu mencerminkan Yesus, kita akan
meninggalkan kenangan indah di sekitar kita. Dan kesalehan kita itu
akan selalu dikenang! —David Roper
HIDUP KITA YANG KUDUS
MERUPAKAN KESAKSIAN YANG PALING KUAT
|