Bacaan : Rut 2:1-13
Saat awal menjadi seorang kristiani, saya dan teman-teman memiliki
cara untuk saling membantu menghafalkan ayat-ayat Alkitab. Kami
saling memberi salam dengan cara meminta yang lain mengutip sebuah
ayat. Ketika seorang teman mengetahui kalau daya ingat saya kurang
baik, ia pernah menyapa saya dengan bercanda, "sebutkan ayat dalam
Yohanes 11:35!" Ia tahu bahwa saya akan mudah mengingat ayat yang
hanya terdiri dari tiga kata.
Meskipun hanya sebuah permainan, tetapi tujuan kami tidak hanya
untuk bersenang-senang. Salam seperti ini mencerminkan keinginan
kami yang mendalam untuk menjadi pelaku firman Allah.
Dalam kitab Rut, kita dapat membaca bahwa Boas memberi salam kepada
para pekerjanya dengan berkata, "TUHAN kiranya menyertai kamu" dan
mereka menjawab, "TUHAN kiranya memberkati tuan!" (2:4). Dari ayat
di atas jelas terlihat bahwa Boas bukanlah seorang tuan tanah yang
kasar, melainkan orang yang memperhatikan orang lain dengan tulus.
Jawaban para pekerjanya mengungkapkan itikad baik mereka terhadapnya
dan keinginan mereka agar Allah juga memberkati tuan mereka.
Saat kita merenungkan hubungan kita dengan Kristus dan orang-orang
yang telah ditempatkan-Nya di sekeliling kita, alangkah baiknya
seandainya kita memperhatikan makna penting dari salam yang kita
ucapkan. Apakah ucapan "selamat pagi" dan "Allah memberkatimu"
hanyalah salam kosong dan tidak tulus? Ataukah salam kita
mengungkapkan rasa perhatian yang sungguh kepada orang yang kita
sapa? —Albert Lee
SALAM YANG DIUNGKAPKAN DENGAN SEPENUH HATI
MENYEGARKAN YANG LETIH DAN MENGUATKAN YANG KESEPIAN
|