Bacaan : Galatia 5:16-26
Sepasang angsa bersiap meninggalkan danau yang airnya mulai
mengering. Seekor kodok memohon untuk bisa ikut dengan mereka pindah
ke danau lain. Namun, angsa bingung bagaimana cara membawa si kodok.
Si kodok punya ide brilian, "Kalian gigit kedua ujung akar rumput
ini, saya akan menggigit bagian tengahnya. Kemudian bawalah saya
terbang." Angsa setuju. Mereka pun terbang. Di angkasa, sekelompok
burung memuji kecerdikan mereka dan bertanya, "Kalian sungguh cerdik,
siapa yang punya ide secemerlang ini?" Si kodok menjawab dengan
bangga, "Ide saya." Saat itu terlepaslah gigitannya, ia pun jatuh ke
bawah dan mati.
Pujian ibarat pedang bermata dua. Bisa produktif kalau kita sikapi
dengan rendah hati; sebagai motivasi dan alasan untuk berbuat lebih
baik. Akan tetapi, bisa juga kontraproduktif kalau kita sikapi dengan
besar kepala; sebagai bentuk kemenangan dan kebanggaan diri. Maka,
penting sekali menyikapi pujian dengan penguasaan diri. Tanpa
penguasaan diri kita akan mudah dimabukkan oleh pujian. Mabuk pujian
awal kehancuran. Seperti yang terjadi pada si kodok.
Penguasaan diri adalah bagian dari hidup yang dipimpin Roh. Sedangkan
gila hormat dan mabuk pujian adalah bagian dari hidup yang dipimpin
daging. Hidup yang dipimpin Roh berbuahkan hal-hal yang indah (ayat
22,23), sebaliknya hidup yang dipimpin daging berbuahkan hal-hal yang
buruk (ayat 19-21). Seseorang yang menjadi milik Kristus, ia telah
menyalibkan dagingnya (ayat 24). Itu berarti, ia juga harus selalu
menguasai dirinya. Termasuk ketika menerima pujian --AYA
TERIMALAH PUJIAN SEBAGAI PENGUATAN BAHWA
KITA DAPAT MELAKUKAN HAL YANG MENYENANGKAN TUHAN DAN SESAMA
|