Bacaan : Mazmur 69:1-5, 14-19
Aminorang dalam bahasa Sikha yang terletak di Maumere, Nusa Tenggara
Timur, berarti "kami ada!". Kata ini umumnya diucapkan atau
diteriakkan orang pada saat keadaan yang menakutkan, contohnya pada
saat terjadi bencana alam seperti gempa dan tsunami yang memang
pernah melanda daerah itu. Selain berteriak, "aminorang!", masyarakat
juga membunyikan tetabuhan atau bahkan memaksa ternak-ternaknya untuk
bersuara. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda bahwa masih ada
kehidupan di bumi sekaligus seruan permohonan agar Tuhan Sang Pemilik
Semesta tergerak hati-Nya oleh belas kasihan dan menghentikan bencana
tersebut.
Pada saat-saat yang menggentarkan, kita juga sering sibuk membuat
kegaduhan agar Tuhan mengingat kita. Kita ingin Tuhan segera menolong
dan melepaskan kita dari "bencana". Teriak kita minta tolong tak
terhitung banyaknya. Tentu ini tidak salah karena Tuhan sendiri
memerintahkan kita untuk berseru kepada-Nya pada waktu kesesakan
(Mazmur 50:15). Pemazmur dalam bacaan kita (Mazmur 69) hari ini juga
pernah merasakan keadaan yang menyesakkan ketika ia diburu dan
kematiannya diharapkan. Pemazmur menyadari bahwa dalam keadaan
seperti itu, hanya Tuhan yang bisa menolong. Karenanya ia menaruh
pengharapan pada Tuhan dan mengucap syukur atas pertolongan yang
diyakininya berasal dari Tuhan.
Kita bersyukur hati Tuhan mudah tergerak oleh belas kasihan karena
Dia sungguh mengasihi umat ciptaan-Nya. Datang dan berserulah kepada
Tuhan setiap saat, bukan saja pada saat menggentarkan tetapi setiap
saat di hidupmu. Aminorang! Katakan pada-Nya; kita ada disini untuk
mengasihi dan dikasihi oleh-Nya --SL
AMINORANG = KAMI ADA
AMINORANG UNTUK MEMULIAKAN TUHAN
|