Bacaan : Lukas 6:27-36
Murah hati selalu berkenaan dengan sikap memberi; entah memberi
waktu, tenaga, materi, atau juga memberi diri. Namun, tidak semua
pemberian bertolak dari kemurahan hati. Sebab bisa saja orang memberi
dengan maksud tertentu, alias ada pamrihnya.
Bahasa Yunani murah hati adalah eleemon (bahasa Ibrani: khessed).
Kata ini mengandung tiga pengertian: (1) Simpati, kesediaan untuk
menangung kesusahan dan kesedihan orang lain; (2) Empati, kesediaan
untuk menempatkan diri pada "posisi" orang lain; ikut merasakan dan
mengalami apa yang orang lain rasakan dan alami; (3) Pengampunan,
kesediaan untuk memaafkan orang lain yang menyakiti, lalu memulai
kembali relasi baru tanpa dibayangi kebencian.
Pada zaman modern sekarang ini, nilai-nilai kemurahan hati semakin
terkikis. Simpati menjadi sesuatu yang langka. Orang bisa sambil
tertawa-tawa membicarakan musibah yang menimpa orang lain, atau
bahkan tega menambah kesulitan kepada orang lain yang hidupnya sudah
susah. Empati juga semakin sukar ditemui. Orang gampang melontarkan
celaan, fitnahan, gosip, ejekan terhadap orang lain, tanpa memikirkan
bagaimana kalau mereka atau keluarga mereka yang mengalaminya. Begitu
pula pengampunan, semakin mahal. Yang subur justru balas dendam; mata
ganti mata, gigi ganti gigi, pukulan dibalas pukulan, bom dibalas
bom. Malah semakin runyam.
Kemurahan hati adalah cerminan sifat Allah Bapa. Dan tugas kita
adalah terus menumbuhkan dan mengembangkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk itu kita bisa memulainya dari lingkungan kita yang
paling dekat --AYA
KEMURAHAN HATI PADA ZAMAN SEKARANG INI
IBARAT SEGELAS AIR SEGAR DI PADANG GERSANG
|