Bacaan : Matius 7:15-27
Sebuah acara dokumenter yang mengupas soal praktik perdukunan di
dunia membuka mata saya tentang adanya dukun-dukun kristiani. Mereka
adalah orang-orang yang melakukan praktik perdukunan seperti layaknya
seorang dukun: misalnya menyembuhkan orang sakit dengan
mengusap-usapkan telur ke bagian yang sakit. Hanya saja, mereka
memakai simbol-simbol kristiani dan mengaku bahwa praktik mereka
adalah sarana bagi terjadinya mukjizat.
Yesus memperingatkan kita untuk tidak mudah percaya begitu saja
kepada orang-orang yang melakukan mukjizat, termasuk mereka yang
melakukannya demi nama-Nya. Sebab, mukjizat bukanlah tanda mutlak
bahwa seseorang mendapat hak istimewa di hadapan Tuhan. Bahkan, ada
orang yang melakukan mukjizat demi nama-Nya, tetapi tidak dikenal
oleh-Nya (ayat 23).
Untuk itu, Yesus mengajar kita untuk melihat buah dari kehidupan
orang-orang tersebut. Salah satu buah yang terpenting: apakah orang
itu membuat kita lebih dekat dengan Tuhan atau justru sebaliknya?
Sebab tidak jarang seorang pembuat mukjizat justru membuat
orang-orang memuja dirinya dan menjauhi Allah. Atau, tidak jarang
mereka membuat kita lebih mencari mukjizat Tuhan daripada pribadi
Tuhan itu sendiri.
Kewaspadaan ini perlu kita terapkan bukan hanya pada mereka yang
melakukan praktik perdukunan, melainkan juga pada orang-orang
kristiani lain, pula pemimpin gereja yang kerap mengaku melakukan
keajaiban atau mukjizat. Sebab siapa tahu, mereka ternyata adalah
serigala buas yang sedang menyamar sebagai domba -- siap memangsa
kita --ALS
UJILAH DAHULU SEORANG PEMBUAT MUKJIZAT
SEBELUM KITA MENGIKUTINYA
|