Bacaan : Yakobus 3:1-12
Berpuluh tahun lalu, seorang pengajar di sebuah sekolah pendidikan
guru di Jakarta menasihati para muridnya agar memutar lidah tiga kali
dalam mulut sebelum mengucapkan sesuatu jika sedang marah. Maka, akan
terjadi sesuatu yang lucu di mulutnya, sehingga ia terhindar dari
berkata-kata kasar. Menurut si pengajar, itu adalah pengalaman
pribadinya. Dulu sebelum mempraktikkannya berulang kali, ia mengaku
sebagai orang yang pemarah.
Ketika kita sedang marah, mulut kita dapat mengeluarkan perkataan
yang kasar hanya demi melampiaskan kemarahan tersebut. Padahal
sesungguhnya perkataan kasar tak meredakan kemarahan, tetapi justru
menyulut api kemarahan itu lebih besar lagi. Itu sebabnya Yakobus
dengan tegas meminta supaya kita mengendalikan setiap perkataan yang
diucapkan oleh lidah. Memasangkan "kekang" pada lidah -- sebagaimana
kuda (ayat 3), agar khususnya ketika sedang marah, kita tetap
mengawasi setiap hal yang terucap. Apalagi, siapa pun kita,
sesungguhnya merupakan "guru" atas orang-orang di sekeliling kita
(ayat 1). Panutan bagi orang lain.
Sebuah pesan praktis pernah saya dapatkan dari seorang hamba Tuhan
yang mengajarkan tentang think (berpikirlah), setiap kali berbicara.
Yakni sebuah rangkaian langkah untuk menguji perkataan kita: Is it
True? (apakah benar?); Honorable? (apakah patut dihargai?);
Inspiring? (apakah menginspirasi orang lain?); Necessary? (apakah
perlu?); dan Kind? (apakah baik?). Biarlah setiap perkataan kita
berkenan kepada Tuhan. Dan tidak mengucapkan apa yang tak perlu tidak
kita ucapkan --WS
WASPADALAH DENGAN SETIAP UCAPAN
SEBAB IA BERKUASA MENGHIDUPKAN DAN MEMATIKAN
|