Bacaan : 2Raja-raja 4:42-44
Apa bedanya "menyisihkan" dengan "menyisakan"? Katakanlah Anda
memesan sepiring nasi goreng di restoran dan ingin membaginya dengan
orang di rumah. Menyisihkan berarti mengambil dulu sebagian dari nasi
itu untuk dibungkus. Sisanya baru Anda makan. Menyisakan berarti
sebaliknya. Anda santap dulu nasi goreng itu sampai kenyang. Sisanya
baru dibungkus untuk dibawa pulang. Menyisihkan itu mengutamakan.
Menyisakan itu menomorduakan.
Ketika krisis pangan melanda daerah tempat Nabi Elisa melayani, 100
orang rombongan nabi kelaparan. Elisa tidak punya persediaan makanan.
Namun, di saat kritis itu, datanglah seseorang membawa 20 roti jelai.
Tidak jelas siapa namanya. Yang jelas, pasti ia seorang yang takut
akan Tuhan. Betapa tidak? Roti yang dibawanya adalah persembahan
"hasil hulu". Aturan Taurat menetapkan bahwa setiap kali orang
berkebun atau bercocok-tanam, hasil panen pertama harus
dipersembahkan kepada Tuhan. Itulah persembahan hasil hulu. Di tengah
krisis pangan, hasil panen orang ini pasti juga anjlok. Tidak banyak.
Namun, ia tetap memberikan persembahan. Sedikitnya hasil panen bukan
menjadi alasan baginya untuk tidak menyisihkan bagian yang terbaik
untuk Tuhan. Akhirnya, lewat persembahannya Tuhan sendiri berkarya.
Persembahan yang sedikit diubah menjadi banyak. Dengan 20 roti jelai,
100 orang yang kelaparan dapat makan sampai kenyang, bahkan ada
sisanya!
Tuhan telah memberi Anda yang terbaik. Sudahkah Anda juga menyisihkan
bagian terbaik untuk Tuhan? Atau, yang kita beri selama ini hanyalah
sisa waktu, sisa tenaga, sisa uang belanja? --JTI
ORANG YANG MENCINTAI TUHAN
LEBIH SUKA MENYISIHKAN DARIPADA MENYISAKAN
|