Bacaan : Lukas 1:46-55
Ketika Ratu Elizabeth II mengunjungi Amerika Serikat, ia membawa
lebih dari seribu delapan ratus kilogram barang. Itu sudah termasuk
dua pakaian untuk setiap acara, pakaian berkabung andaikata ada yang
meninggal, dua puluh dua liter plasma, dan tempat duduk toilet putih
terbuat dari kulit anak kambing. Ia juga membawa penata rambut
pribadi, dua pelayan pria, dan sejumlah pegawai lain. Kunjungan
singkat seorang ratu ke negara asing itu menghabiskan dana dua puluh
juta dolar.
Memang pantas bila pembesar bepergian, banyak persiapan dilakukan.
Namun, perhatikanlah bagaimana Yesus "berkunjung" ke bumi. Dia tidak
lahir di istana. Sebaliknya, Dia terdampar di sebuah kandang. Dia
hadir sebagai bayi yang bergantung sepenuhnya pada perawatan
suami-istri muda yang masih canggung; dan golongan yang pertama
menyambut-Nya hanyalah para gembala.
Tentang kesederhanaan Kristus ini, Philip Yancey dalam bukunya Bukan
Yesus yang Saya Kenal menulis, "Saat saya membaca kisah kelahiran
Yesus, saya tidak bisa tidak menyimpulkan bahwa walaupun dunia
mungkin lebih mementingkan mereka yang kaya dan berkuasa, Allah lebih
mementingkan mereka yang hidup sangat sederhana". Kelahiran dan
kehidupan-Nya menggambarkan perhatian Allah pada mereka yang
tertindas.
Di tengah perayaan Natal yang cenderung meriah dan mewah, kita
ditantang untuk menangkap semangat kesederhanaan Kristus. Terlebih
saat-saat ini, ketika kondisi perekonomian nasional sedang sulit dan
banyak orang kurang beruntung. Natal membuka kesempatan bagi kita
untuk berbagi dan mengulurkan tangan -ARS
DENGAN KESEDERHANAAN-NYA, YESUS KRISTUS MENAWARKAN PEMBEBASAN BAGI
MEREKA YANG TIDAK BERDAYA
|