Bacaan : Kejadian 12:1-7
Karen, anak kami yang kecil, umur enam tahun, rambutnya panjang
sampai sepunggung. Belakangan ujung-ujung rambutnya rusak; sering
kusut dan susah kalau disisir. Saya dan istri memintanya potong
rambut. Ia tidak mau. Katanya, ia sudah enak dengan rambut panjang
begitu. Kami bujuk pun, ia tetap ngotot tidak mau. Sampai akhirnya
dengan sedikit "iming-iming" dan "paksaan" ia mau juga potong rambut
hingga panjangnya jadi seleher. Kini rambutnya tidak sering kusut
lagi. Lebih sehat dan lebih mudah disisir pula. Ia pun senang dengan
rambut pendeknya yang sekarang ini.
Salah satu kecenderungan yang dimiliki banyak orang adalah merasa
nyaman dengan "status lama". Ketika harus menghadapi situasi yang
baru, mereka lebih mudah untuk berpikir negatif. Nanti bagaimana
kalau begini, nanti bagaimana kalau begitu. Jadinya tidak maju-maju.
Akan tetapi, tidak demikian dengan Abraham. Ia dan keluarganya sudah
menetap di Haran. Lalu tiba-tiba datang firman Tuhan supaya ia pergi
(ayat 1). Secara manusiawi Abraham tentunya bergumul. Namun ia tidak
membiarkan dirinya terjebak dalam pikiran negatif. Ia pun pergi
seperti yang Tuhan firmankan (ayat 4).
Ada saatnya kita menghadapi situasi serupa, yakni meninggalkan
kehidupan yang sudah lama kita jalani untuk menempuh sesuatu yang
baru. Sesuatu yang baru itu bisa berupa tempat, bisa juga peran atau
tanggung jawab. Jika demikian situasi yang kita hadapi, jangan gentar
melangkah. Jalani dengan iman. Tuhan tidak mungkin membawa kita pergi
untuk kemudian meninggalkan kita. Dia pasti akan memperlengkapi dan
menyertai kita -AYA
JANGAN TAKUT UNTUK MENJALANI SESUATU YANG BARU
HANYA DENGAN BEGITU KITA BISA MAJU
|