Bacaan : Matius 18:21-35
Pada suatu siang yang panas, saya pulang dari mengajar. Mulanya saya
berencana naik angkot, tetapi tak ada yang lewat. Akhirnya saya
memilih naik bajaj. Begitu saya turun, tukang bajaj meminta ongkos
dua kali lipat dari biasa. Saya bersikeras membayar dengan harga
biasa, tetapi ia juga bersikeras. Jadi saya mesti membayar Rp3.000,00
lebih mahal. Saya kesal karena merasa ditipu. Namun Tuhan
mengingatkan, "Pantaskah kamu kesal karena uang Rp3.000,00?" Saya
pikir rugi juga marah karena hal sepele. Namun, tak berhenti di situ.
Tuhan mengingatkan saya lagi untuk mengampuni orang tadi. Dalam hati
saya tidak terima, karena saya yang dirugikan. Orang itu juga tidak
minta maaf. Apa saya mesti mengampuninya?
Matius 18:21-35 mencatat pengajaran Yesus mengenai pengampunan.
Seorang hamba tak mampu membayar utangnya yang besar kepada raja dan
meminta waktu untuk melunasinya (ayat 26). Sang raja, dengan penuh
belas kasihan membebaskan dan menghapus utangnya (ayat 27). Sayang,
si hamba-yang sudah menerima belas kasihan, tidak menunjukkan belas
kasihan pada sesamanya. Karena itu raja murka dan menghukumnya.
Kita sebetulnya seperti hamba yang berutang banyak. Bapa tidak
menuntut kita membayar utang dosa kita yang begitu besar. Dia justru
membebaskan kita. Akan tetapi, kita kerap tidak menyadari pengampunan
yang sudah kita terima. Kita masih sering tak mau mengampuni saat ada
orang yang bersalah, menipu, dan menyakiti kita. Sekalipun orang lain
tak pernah meminta maaf, ingatlah Allah sudah menyatakan belas
kasih-Nya kepada kita. Mari tunjukkan belas kasih pula kepada orang
lain -GS
DOSA TERBESAR PUN SUDAH TUHAN HAPUSKAN
KESALAHAN SEBESAR APAKAH YANG TAK DAPAT SAYA MAAFKAN?
|