Bacaan : Lukas 1:5-25
Hingga usia lanjut, Zakharia dan Elisabet belum dikaruniai anak.
Padahal, mereka adalah pasangan yang hidup benar di hadapan Allah.
Namun, mereka tak lantas menjadi kecil hati. Sebaliknya, mereka terus
hidup seturut perintah-Nya dan berlaku benar di hadapan-Nya. Pada
akhirnya, kesetiaan mereka terbalas ketika kepada mereka dipercayakan
seorang anak, yaitu Yohanes Pembaptis-tokoh pembuka jalan bagi Yesus.
Allah kita adalah Allah yang setia. Dia pun ingin agar kita menjadi
anak-anak-Nya yang setia. Karena itu, Dia kerap menggembleng kita
lewat jalan yang panjang dan tak mudah; seperti bangsa Israel yang
harus mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun sebelum
masuk ke tanah Kanaan. Seperti Yosua yang dipersiapkan sejak masa
muda sebelum menggantikan Musa. Seperti Ayub yang mesti mengalami
pencobaan begitu berat sebelum akhirnya dipulihkan. Dan sebagainya.
Kesetiaan kita kerap diuji; baik dalam perkara yang sukar maupun
dalam perkara yang sederhana. Dan, tantangan terbesar kerap datang
dari diri kita sendiri, ketika kita bertanya: benarkah Tuhan mau
menolong? Sama seperti Zakharia yang mempertanyakan janji Tuhan,
sehingga ia menjadi bisu hingga waktu anaknya lahir. Di sini kita
belajar bagaimana kita mesti berserah penuh akan janji dan
pemeliharaan-Nya yang tak terbatas. Jangan sampai kesetiaan kita
luntur. Memang benar bahwa tak semua yang kita mau akan terwujud,
tetapi jika kita setia, percayalah bahwa sesuatu yang lebih baik
pasti akan datang. Tuhan mengasihi anak-anak-Nya yang setia -DYA
KESETIAAN DIMILIKI SAAT KEPERCAYAAN DIPEGANG
BAHWA ALLAH YANG DIYAKINI SELALU DAPAT DIANDALKAN
|