Bacaan : Matius 1:1-17
Silsilah barangkali merupakan bagian Alkitab yang paling
"membosankan". Betapa tidak, di sana kita hanya menemukan deretan
nama orang. Tidak heran kalau banyak orang, ketika membaca Alkitab
sampai pada bagian ini, lebih suka melewatinya atau membacanya secara
sekilas. Padahal, jika silsilah itu dimuat dalam firman Tuhan, tentu
ada maknanya; tidak asal ada atau sebagai pelengkap belaka.
Orang Yahudi pada masa itu sangat mengagungkan asal-usul atau
keturunan seseorang. Bagi mereka, silsilah sangat penting. Selain
untuk membuktikan "keaslian" ras mereka, silsilah juga akan
menunjukkan "keunggulan" nenek moyang mereka. Itu sebabnya mereka
membenci orang Samaria karena ras mereka dianggap sudah tidak murni.
Itu sebabnya pula Raja Herodes pernah memerintahkan agar catatan
silsilahnya dibakar untuk menutupi fakta bahwa ia bukan keturunan
Yahudi asli.
Bertolak dari latar belakang itu, sangat menarik kalau dalam silsilah
Yesus justru terdapat nama-nama yang bereputasi "minus". Ada Tamar
yang pernah melacurkan diri terhadap Yehuda, ayah mertuanya, hingga
mengandung (Kejadian 38:1-30). Ada Rut, perempuan bangsa Moab (Rut
1:3,4). Disebut juga di sana "istri Uria", Batsyeba, yang dizinahi
Daud (2Samuel 11:1-27).
Apa artinya? Kelahiran Kristus menyediakan pemulihan bagi mereka yang
di masa lalu "tercemar oleh kelamnya dosa"; meruntuhkan tembok
pemisah antara "ras unggul" dan "rasa rendahan"; sekaligus meniadakan
sekat penghalang antara suku bangsa. Inilah kabar baik yang dibawa
Kristus ke dalam dunia. Tugas kita sebagai umat kristiani adalah
meneruskannya -AYA
NATAL MEMBANGUN JEMBATAN PERSATUAN
DAN MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH
|