Bacaan : Ibrani 11:8-16
Saya pernah bertualang seorang diri keliling Eropa selama sebulan,
sebagai turis backpacker. Dengan menyandang ransel besar, saya
mengunjungi kota demi kota dengan kendaraan umum. Kadang saya
menginap di kereta, pada kesempatan lain menginap di hostel. Seru!
Bagi turis seperti saya, berlaku prinsip penting: bawalah barang
seringan dan sesedikit mungkin. Mau beli cenderamata pun mesti
pikir-pikir-jangan sampai membebani diri terlalu berat. Toh saya
berada di satu tempat hanya satu atau dua hari. Akibatnya saya tidak
membawa barang-barang, kecuali yang benar-benar penting.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita hanya orang asing dan pendatang
di bumi ini (ayat 13). Kita hanya transit dan tak akan tinggal lama.
Tujuan akhir kita adalah tanah air surgawi. Karena itu, janganlah
hati kita melekat pada kemewahan dunia, lalu membangun kerajaan di
sini. Jangan terlalu merasa betah. Belajarlah dari Abraham. Ketika ia
tiba di negeri perjanjian, ia tidak membangun rumah permanen. Ia
mendirikan kemah yang mudah dibongkar kapan saja (ayat 9). Bagi
Abraham, dunia ini hanya "tanah asing". Bahkan ketika ia tak
memperoleh apa pun yang dijanjikan di dunia ini, ia tidak kecewa.
Mengapa? Karena ia sadar dirinya hanya pendatang (ayat 13).
Penggenapan seluruh janji Allah baru akan dialami kelak, ketika kita
tiba di "tanah air".
Di tengah kesibukan bekerja, ada bahaya jika kita menjadi "terlalu
betah" tinggal di dunia. Merasa menjadi penghuni tetap bumi ini,
sehingga memusatkan perhatian untuk segala hal duniawi. Ingatlah:
kita hanya pendatang dan perantau. Perjalanan masih panjang. Pastikan
bawaan Anda sudah seringan dan sesedikit mungkin -JTI
JIKA ANDA TERLALU BETAH TINGGAL DI BUMI
SURGA TAMPAK TIDAK MENARIK LAGI
|