Bacaan : Yohanes 10:1-10
Para murid sekolah di Inggris dilarang menyalakan nada dering telepon
genggam di kelas. Namun, mereka tidak habis akal. Mereka memasang
ringtone yang disebut "suara nyamuk", yaitu nada dengan frekuensi
tinggi yang tidak bisa didengar oleh telinga orang dewasa. Para guru
pun tak bisa mendengar suaranya. Namun, para murid dapat
mendengarnya, sehingga bisa berkirim SMS dengan leluasa. Rupanya
setelah berusia 25 tahun ke atas, ada bulu-bulu halus di dalam
telinga manusia yang menua atau rusak. Itu sebabnya telinga orang
dewasa tak lagi dapat mendengar suara dengan frekuensi tinggi (di
atas 16 KHz) seperti telinga anak-anak.
Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik dan para murid
adalah domba milik-Nya. Ada ikatan batin antara gembala dan domba.
Gembala di Israel biasanya memberi nama tiap dombanya dan memanggil
nama mereka dengan nada khas. Jika malam tiba, setelah semua domba
masuk kandang, sang gembala tidur di pintu masuk. Ia menjadi
pintu-tameng untuk melindungi domba dari serangan musuh. Kedekatan
ini membuahkan kepekaan. Domba-domba mampu mengenali dan membedakan
suara gembalanya. Jika gembala asing memanggil, mereka tak bereaksi.
Di sekitar kita ada banyak suara. Kadang sulit membedakan mana suara
yang benar dan mana yang sesat; mana kehendak Tuhan, mana bukan
kehendak Tuhan. Untuk melatih kepekaan, kita perlu membangun
persekutuan dengan Tuhan melalui disiplin doa dan firman. Kalau kita
ingin terus mengenali suara-Nya, jangan mengabaikan disiplin rohani
ini -JTI
TANPA DOA DAN FIRMAN
ANDA AKAN KEHILANGAN KEPEKAAN
|