Bacaan : 1Samuel 24:1-14
Salah satu kejahatan paling berbahaya di dunia ini adalah
mengabsahkan sebuah tindakan atas nama Tuhan. Termasuk jika tindakan
itu memperdaya, melukai, meneror, atau bahkan menghabisi nyawa
sesama. Orang suka menyembunyikan keinginan dan ambisi pribadinya di
balik topeng "kehendak Tuhan" atau "perintah suci agama", sambil
menghalalkan cara-cara tak bermoral.
Kisah Daud di En-Gedi menerangi pemahaman kita. Kesempatan dan semua
faktor pendukung begitu terbuka untuk menghentikan sumber ancaman
bagi dirinya. Saat itu Saul sedang lengah. Dengan satu kali kibasan
pedang, selesai! Tak ada penghalang. Daud benar-benar bebas
melakukannya. Bahkan keyakinan imannya sendiri mengatakan, "Tuhan
sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku" (ayat 11). Artinya,
jika Daud melakukannya pun, ia dapat membenarkan diri dengan alasan
"Tuhan memang berkenan". Tetapi, ia memilih untuk tidak melakukannya.
Ia memilih untuk tidak mencemari tangannya dengan darah orang yang
diurapi Tuhan.
Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk dengan kehendak-bebas,
tetapi sekaligus juga dengan tanggung jawab yang menyertai. Jadi,
jangan gampang-gampang mengatakan "ini kehendak Tuhan". Sebab
andaikan bagi kita tampaknya Tuhan memang menghendaki, karena
kesempatannya begitu terbuka, keputusan untuk melakukannya atau tidak
masih tetap ada di tangan kita. Pertimbangan dan keputusan moralnya
ada di pundak kita. Tuhan tidak menghendaki kita melepaskan diri dari
tanggung jawab pribadi atas keputusan moral kita. Apalagi dengan cara
"melemparkan" tanggung jawab itu kepada-Nya, dengan dalih "Tuhan
menghendaki" -PAD
JANGAN MENGGUNAKAN DALIH KEHENDAK TUHAN
UNTUK MENGHINDARI TANGGUNG JAWAB PRIBADI KITA
|